Ini dia, 5 Prasyarat Anak Muda Perempuan di Timor Mau Jadi Petani

 

Analisa Systems Thinking hasil FGD

Bagaimana caranya agar anak muda terutama perempuan di Timor mau menjadi petani?

Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang ingin coba ditelusuri oleh riset ini. Tidak disangkal lagi, salah satu tantangan paling besar sektor pertanian saat ini adalah minimnya anak muda yang bersedia menjadi petani.

Analisa Systems Thinking dari riset ini menemukan bahwa; terdapat lima prasayarat utama yang merupakan faktor pendukung anak muda terutama perempuan agar bisa menjadi petani, yaitu akses tanah pertanian, motivasi dari diri sendiri (niat), ketersediaan air, akses informasi dan pengetahuan budidaya pertanian dan kepastian pembeli/ peluang pasar. Jika 5 hal ini tersedia (atau minimal memiliki kepastian) maka anak muda (terutama perempuan) di Timor bisa dan bersedia menjadi petani (lagi). Menarik bukan?

 

Hal ini juga menunjukan pergeseran nilai terkait fungsi dan dampak sektor pertanian dari model on farm ke off farm. Selengkapnya hasil temuan riset ini bisa diunduh disini: Temuan Riset EnV. 

Riset ini dilakukan Pikul melalui program Penguatan Petani Muda Perempuan untuk Komunitas Tangguh Iklim dan Bencana di Indonesia (YFF-ICDRC). Riset ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor kunci (pra syarat) yang dibutuhkan untuk mendukung anak muda, TERUTAMA PEREMPUAN di 4 Desa lokasi program agar bisa mengembangkan penghidupan mereka dari aktifitas petanian. “Enabling Environment”, diartikan sebagai menyediakan suasana/ lingkungan/ sarana dan prasarana minimum yang kondusif bagi petani muda terutama perempuan, untuk mengembangkan penghidupan mereka.

Metode yang diterapkan yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam survai ini adalah wawancara mendalam, dengan menggunakan panduan pertanyaan yang dilakukan kepada subyek penelitian dengan analisa menggunakan pendekatan Systems Thinking.

Program YFF – ICDRC adalah kerja sama antara Warga/Komunitas di 4 desa di Kabupaten Kupang dan TTS dengan Perkumpulan PIKUL dan OXFAM Indonesia atas dukungan dari Australian Aid dan Kementerian Sosial.*** (Penulis :Yuni E. Baun dan Alberty M. Olla)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *