Tergesernya Si Unik “Tempurung Kelapa”

Makan dari piring tempurung kelapa? Wow.. Sesuatu yang baru bagi saya. Unik dan sedikit aneh. Tapi, tidak bagi suku Timor khususnya masyarakat Desa Oh’Aem, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang. Zaman dulu, masyarakat Oh’Aem makan menggunakan piring tempurung kelapa (Apanu) dan sendok tempurung kelapa (Asoko). Sebelum masyarakat desa ini mengenal piring yang sekarang (piring kaca, melamin, plastik), mereka menggunakan Asoko dan Apanu. Namun, setelah mengenal piring “jaman now”, piring unik dan khas ini pun mulai terlupakan. Orang lebih memilih untuk makan menggunakan piring karena dianggap Apanu dan Asoko sudah ketinggalan zaman.

Oleh: Mutiara Euodia Meinicholis, (Peserta Kejar Palok, Januari-Februari 2018)

 

Makanan pokok masyarakat Desa Oh’Aem adalah Jagung Bose dan koto fael, dan makan menggunakan Apanu. Berbeda dengan sekarang, masyarakat sudah mulai mengenal beras dan makan menggunakan piring.

Salah satu pengrajin Apanu dan Asoko di Desa Oh’Aem adalah Bapak Paulus Kobos (43 tahun). Beliau bekerja sebagai petani namun belajar membuat Apanu dan Asoko sudah dari usia kanak-kanak sekaligus membantu orangtua. Bapa Paul, begitu disapa, mengatakan bahwa saat ini sedikit bahkan tidak ada orang lagi yang memakai Apanu dan Asoko untuk makan kecuali untuk pameran ataupun festival. Kalaupun ada yang memakainya, hanya dipakai untuk makan ketika berada di kebun.

Bapa Paul berkata, “Apanu dan Asoko ini hampir terlupakan dan banyak anak-anak yang sudah tidak mengenalnya lagi”.

Beliau juga sangat bersyukur dan senang dengan kehadiran PIKUL di desa mereka karena memberi semangat baru di desa mereka khususnya beliau, “Saya sangat senang dengan kehadiran PIKUL dari tahun 2015 karena memberi semangat dan dorongan bagi masyarakat disini khususnya saya. Tidak hanya mengampanyekan pangan lokal tapi juga produk lokal hasil kreatifitas masyarakat”, ujar Bapa Paul.

Selain Apanu dan Asoko, Bapa Paul juga ahli membuat kerajinan lokal yang unik lainnya seperti, Atuke atau teko bambu, Alu/Irus atau sendok kuah/sutel. Bahannya asli dari alam dan pembuatannya pun masih tradisional.

Apanu dan Asoko dibuat dari tempurung kelapa. Kelapa yang dipilih adalah kelapa yang sudah tua tapi tidak sampai berwarna cokelat dan setengah kering. Kalau menggunakan kelapa tua yang sudah berwarna cokelat terlalu garing dan akan susah untuk dibentuk. Untuk membelah atau membentuknya menggunakan pisau, lalu bagian dalam dan luar dihaluskan menggunakan kertas pasir (amplas).

Atuke atau teko bambu dibuat dari bambu yang berumur dua (2) tahun. Pembuatannya pun bersifat tradisional sama seperti Apanu dan Asoko, masih menggunakan parang atau pisau. Untuk menghaluskan bagian luar dan dalam menggunakan pisau.

Atuke, Alu/Irus atau sendok kuah/sutel dibuat dari tempurung kelapa dan bambu. Bagian sendok terbuat dari tempurung kelapa, sedangkan gagangnya terbuat dari bambu. Pembuatannya juga masih bersifat tradisional, sama seperti yang lainnya. Ada 2 jenis irus, yang bagian sendoknya ada lubang berfungsi untuk memisahkan kuah/minyak dengan isi/daging ketika disendok, dan yang tidak berlubang.

Alu/Irus
Apanu, asoko, atuke, dan alu dipasang tali. Tali yang dipakai juga berasal dari alam. Nama lokalnya Ttan fFaug atau tali hutan, namanya Tali tanunu berasal dari beringin merah atau beringin putih. Fungsi tali tersebut untuk memudahkan dalam penyimpanan dengan cara digantung.

Agar kerajinan tersebut kelihatan mengkilat, dapat direndam atau dioles dengan menggunakan minyak. Dan minyak yang paling baik dengan menggunakan minyak babi. Bisa saja memakai minyak goreng namun tidak akan mengkilap jika terkena panas matahari. Kemudian agar bisa bertahan lama dipanggang atau diasapkan di rumah bulat (Ume Kbubu). Warnanya akan berubah menjadi cokelat dan mengkilap.

“Karena dorongan dari PIKUL makanya saya masih melanjutkan lagi untuk membuat kerajinan ini”, ujar Bapa Paul.

Beliau sangat berharap PIKUL dapat membantu mengampanyekan dan mempromosikan kerajinan dari tempurung kelapa ini agar semakin banyak orang yang mengenal budaya dan tradisi dari masyarakat Desa Oh’Aem.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *