Mendekatlah, Kamu akan Takjub!

Oleh: Megawati Liu (Peserta Magang Program KEJAR PALOK (Ketong Anak Muda Belajar Pangan Lokal), Proyek Keberagaman Pangan untuk Kedaulatan Pangan, PIKUL – OXFAM, Desember 2017 – Februari 2018)

Jam 4.30 sore waktu saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Desa Lorotolus, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

SETELAH berkenalan dan melepas lelah kami diantar ke Kampung Adat Wanibesak, tempat kami tinggal seminggu untuk kegiatan Kejar Palok (Ketong Belajar Keberagaman Pangan dan Pangan Lokal). Dalam Kejar Palok ini melibatkan 10 orang relawan dari anak muda Kota Kupang yang kemudian tersebar ke beberapa desa. Saya bersama kedua teman relawan merasa beruntung diberi kesempatan untuk melihat dan belajar secara langsung dari masyarakat Wanibesak, karena banyak hal baru yang bisa kami pelajari di sini. Bukan saja tentang keberagaman pangannya tapi juga tentang budaya di kampung Wanibesak. Secara pribadi saya merasa takjub dan sedikit deg-degan saat pertama melihat rumah-rumah adat di kampung tersebut, menarik perhatian untuk mengenal lebih dalam daripada yang tampak di depan mata.

Tentang Kampung Adat Wanibesak

Bapak Sintus Bere, adalah kepala dusun Wefatuk yang berasal dari kampung adat Wanibesak. Bapa Sintus ini yang membantu kami selama berada di Wanibesak. Dari hasil cerita dengannya saya mendapat sedikit gambaran tentang Wanibesak.

Kampung Adat Wanibesak terdiri dari 2 suku besar, yaitu Wanibesak A yang didiami oleh suku Soka dan Wanibesak B oleh suku Suhi. Baik suku Soka maupun suku Suhi, keduanya terbentuk dari suku-suku kecil di dalamnya, yang ditandai dengan rumah adat masing-masing.

Suku Soka misalnya ada Soklor, Petori, Datobot, Kakaluk, Hamiun dan Manufahi. Sedangkan suku Suhi ada Suhi Dato , Suhi Loro dan Loro. Meskipun demikian, kedua suku ini memiliki rumah-rumah adat yang bentuknya sama dan letaknya berdekatan. Beberapa batu yang berjejer di tanah yang menjadi batas antara suku Soka dan Suhi. Kali ini saya berkesempatan untuk berkenalan lebih dekat dengan Kampung Adat Wanibesak B (Suhi).

Kampung Adat Wanibesak, Kabupaten Malaka

Kambing, Babi dan Anjing, itulah beberapa hewan yang secara bebas berkeliaran di kampung adat. Saat cuaca panas banyak hewan yang memilih berteduh di bawah kolong rumah. Kolong rumah? Ya, rumah adat ini adalah rumah panggung. Bentuk rumah panggung ini pada umumnya sama, atapnya berbentuk limas segi empat terbuat dari daun gewang dan menjuntai ke bawah menutupi hingga 1/8 bagian dalam rumah. tiang dan dindingnya terbuat dari kayu jati, sedangkan dasarnya dibuat menggunakan batang gewang (ada juga yang menggunakan kayu jati).

Bagian rumah terdiri atas 2 bagian yaitu bagian depan disebut labis, sebagai tempat duduk tamu dan tempat tidur untuk laki-laki. Tidak berdinding, namun dapat menggunakan beberapa helai anyaman tikar untuk menutupnya sebagai pengganti dinding. Dan bagian dalam rumah yang berdinding, bagian kiri sebagai tempat masak atau dapur disebut fahi kalutuk, bagian kanan belakang tempat tidur perempuan atau yang melahirkan disebut alalao, bagian kanan depan tempat penyimpanan siri pinang bagi leluhur yang telah meninggal disebut kakuluk. Di bagian depan dinding atap rumah dihiasi dengan aioe emar yaitu ukiran-ukiran kayu menyerupai kepala manusia.

Uma Aias

Dari sekian rumah yang ada di kampung adat ini, ada satu rumah yang berbeda dan menarik perhatian saya. Rumah Perempuan, dalam bahasa tetun disebut Uma Aias. Bukan saja karena namanya tapi juga karena bangunannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumah adat lainnya. Tingginya mencapai 5-6 meter dari tanah. Tiang-tiangnya berbentuk bulat dan tampak kokoh. Terdapat sebuah tangga kayu yang digunakan untuk naik ke rumah tersebut.

Tidak semua orang dapat masuk ke dalam Uma Aias. Bahkan untuk melihat dari dekat pun tidak diperbolehkan karena pamali. Sesuai namanya, Uma Aias hanya bisa didekati dan masuk ke dalam oleh perempuan. Meski begitu, hanya perempuan atau mama-mama (dewasa tidak termasuk anak-anak) dari suku Suhi yang bisa masuk ke dalamnya dan untuk tujuan tertentu.

Setiap malam Perempuan dari masing-masing rumah dalam suku Suhi bertugas menjaga Uma Aias dengan cara pergi dan tidur malam di rumah tersebut. Tugas ini dilakukan secara bergiliran. Masing-masing rumah mendapat giliran jaga selama satu minggu. Perempuan yang melakukan tugas jaga, wajib menggunakan kain adat berwarna hitam tanpa memakai baju. Begitu juga jika ada ritual adat, perempuan yang menjalankannya hanya memakai kain adat berwarna hitam.

Uma Malae

Uma Malae, jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya rumah raja. Terletak di bagian depan dari jalan raya. Uma Malae adalah tempat singgah atau bertamu raja-raja Timor (Tetun) yang datang ke Malaka khususnya desa Wanibesak. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka, barulah ada perutusan yang pergi dan memberitahukan kedatangan raja-raja tersebut ke tempat atau orang yang akan dituju. Selain raja-raja, orang-orang penting seperti Bupati dan pejabat pemerintahan lainnya terlebih dahulu singgah dan masuk ke Uma Malae jika berkunjung ke Wanibesak.

Uma Maromak

Bercerita tentang Uma Maromak rasanya membuat saya merinding. Rumah ini dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai tempat adanya Tuhan atau Rumah Tuhan. Menurut cerita mama Brigita Abu, Patung Bunda Maria dan Salib terdapat di dalam rumah tersebut dan sudah ada sejak dulu, tanpa mereka tahu siapa yang menyimpannya.

Uma Maromak termasuk salah satu dari sekian banyak rumah di kampung adat Wanibesak yang terbakar saat terjadi pergolakan Timor-Timur. Akan tetapi setelah rumah-rumah adat dibangun kembali, Patung Bunda Maria dan Salib tersebut tetap ada di dalam Uma Maromak dan diyakini tidak ikut terbakar saat itu.

Uma Maromak

Uma Kakaluk

Patah hati atau patah tulang yang lebih berat? Ini yang sempat terlintas di saya pung pikiran saat ada teman yang beri komentar di status yang saya posting, “Tulang patah dapat tersambung dalam tiga hari”. Uma Kakaluk jadi alasan postingan itu. Apa hubungannya? Ya, tentu ada. Uma Kakaluk adalah rumah tempat berobat atau menyembuhkan orang yang mengalami patah tulang. Biasanya orang yang ingin mendapat pertolongan akan tinggal di rumah dan diobati oleh Ina Be’e (yang diberi kepercayaan memegang rumah kakaluk) juga dibantu beberapa orang. Setelah beberapa hari pengobatan, tulang yang patah dapat tesambung kembali.


Hamis Batar

Hamis Batar adalah suatu ritual adat untuk menyambut musim panen jagung di Malaka. Hamis batar dilaksanakan oleh masyarakat Belu pada umumnya, sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta atas panen yang mereka peroleh. Dengan dipimpin oleh tetua adat, masyarakat akan mempersembahkan hasil panen jagung terbaik (Wikipedia). Hamis dilaksanakan apabila sebagian masyarakat sudah siap untuk panen. Jumat, 16 Februari 2018 saya menyaksikan hamis di kampung adat Wanibesak.

Hamis dimulai dari proses panen jagung di kebun masing-masing, biasanya dimulai sejak pagi hari. Setelah jagung dipanen, dibawa pulang dan disatukan menjadi 7 puler dalam satu ikatan. Kemudian ikatan tersebut dibawa untuk dimasukan ke dalam rumah adat. Perempuan yang membawa masuk jagung ke rumah adat (Uma Aias, Uma Malae, Uma Maromak) biasanya tidak berpakaian tetapi menggunakan sarung/kain adat. Sedangkan ritual di Uma kakaluk dilaksanakan oleh para lelaki. Di rumah adat, ada orang yang bertugas menerima jagung tersebut untuk diolah. Uma Malae misalnya, ada Nenek Rosalinda Seuk menerima jagung yang diantarkan.

Nenek Roslinda sedang menjalankan ritual Hamis Batar

Proses penerimaan jagung melalui bagian pintu depan dan pintu belakang. Pada ikatan terkahir jagung diterima dari pintu belakang. Baik yang menerima maupun mengantarkan jagung, keduanya menggunakan kain adat. Sekitar jam 3 sore, nenek Rosalinda mulai memasak jagung yang diantarkan. Hingga proses masak selesai, jam 7 malam semua kelurga berkumpul untuk mengikuti acara makan jagung.

Piring-piring berisi jagung diletakkan berbaris pada ruangan bagian kanan (kakuluk), sebagai seserahan bagi leluhur raja-raja. Setelah bebrapa menit diangkat kembali. Kemudian disusun lagi piring berisi jagung di ruangan bagian kiri untuk seserahan bagi leluhur dari keluarga, didiamkan beberapa menit (sekitar 10-20) menit lalu jagung dikumpulkan kembali dan dibawa ke labis (rumah bagian depan) untuk dimakan oleh seluruh keluarga yang ada di tempat itu.

Kompas.com pada 3 September 2012 menulis bahwa di kalangan orang Timor, ritual ini dikenal luas dan tetap dipertahankan hingga sekarang. Masyarakat NTT termasuk Timor sejak lama mengandalkan jagung sebagai bahan pangan utamanya, meski belakangan mulai tergusur oleh beras. Namun bagi masyarakat terutama pedesaan, jagung tidak sekadar bahan pangan. Tanaman semusim itu diyakini sebagai tanaman yang memiliki “roh” hingga budidayanya selalu disertai ritual ksusus seperti hamis.

Prosesi mengantar jagung ke rumah adat

Masyarakat Wanibesak selalu bersyukur akan hasil panen yang diterima, ini ditandai dengan hamis yang mereka lakukan setiap tahunnya. Menurut mama Brigita Abu, seorang guru SD dari suku Suhi, sewaktu masa kecilnya pernah terjadi kekeringan yang berkepanjangan sehingga tidak ada jagung yang bisa dipakai untuk ritual. Namun ritual hamis tetap dilaksanakan dengan menggunakan sirih pinang sebagai penggantinya.

Bisa menyaksikan secara dekat dan langsung proses hamis ini, saya seperti diberi bonus dari hasil belajar pangan lokal. Karena bicara pangan dan budaya ibarat bercerita tentang smartphone dan charger, hanya dapat menyala dan terang jika keduanya berfungsi baik. Kini bukan saja tentang pangan yang terpenuhi, tapi tentang bagaimana rasa memiliki dan menghargai pangan menjadi suatu budaya yang dijaga dan terus diwariskan hingga anak cucu. Dari kesan awal yang deg-degan, menjadi takjub, tercengang dan hanya bisa berkata “ Wooooow “. Terima kasih Wanibesak, saya dibuat takjub pada pandangan pertama.***

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *