Asmanak dan Ume Bubu: Sampai Kapan Ia Menjaga Perut

Laughter is brighter in the place where the food is (Tertawa yang paling riang ada di tempat di mana ada makanan).

Oleh: Joanivita Paulo Gulo Soru (Peserta Magang Program KEJAR PALOK (Ketong Anak Muda Belajar Pangan Lokal), Proyek Keberagaman Pangan untuk Kedaulatan Pangan, PIKUL – OXFAM, Desember 2017 – Februari 2018))

Sebuah peribahasa dari Irish di atas inilah yang terngiang di kepala ketika saya memasuki Ume Bubu (Rumah Bulat), dapur sekaligus lumbung di rumah warga Kelurahan Lelogama Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang.

Seakan bertolak belakang dengan peribahasa dari negeri seberang tersebut, saya malah bercucuran air mata ketika berada di dalam bangunan tradisional orang Timor tersebut yang terbuat dari daun ilalang sebagai ciri khasnya. Bagaimana tidak. Saya harus merunduk berjongkok bahkan nyaris merayap untuk masuk ke dalam bangunan multifungsi itu namun disambut dengan asap tebal yang mengepul dari tungku batu di titik tengah ruangan. Sungguh menyiksa mata, hidung dan tenggorokan saya yang tidak terbiasa dengan kondisi itu. Rasa asapnya begitu membakar saluran napas dan mata saya.

Meskipun demikian, saya terpukau luar biasa ketika mendongakkan kepala ke bagian atas tungku. Deretan jagung berkulit yang diikat dan disusun berbaris tepat di atas tungku tersebut. Ada pula kantong-kantong anyaman daun lontar yang bergelantungan di antara barisan jagung. Isinya biji-bijian dan kacang-kacangan sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya. Namun, ada seikat jagung berkulit hitam yang begitu kontras dengan warna jagung lainnya. Ia tidak rusak. Ia tidak bernoda. Ia bukan varietas ajaib. Ia adalah Pen Asmanak (pen, jagung dan asmanak, jiwa), :”jiwa” yang menjaga lumbung.

Jagung yang dipercaya warga harus tetap tinggal di dalam Ume Bubu sampai musim panen tiba kemudian akan diganti dengan Pen Asmanak yang baru. Jagung yang dipercaya warga sebagai simbol untuk menjaga agar lumbung tetap terisi.

Bagi saya, Asmanak dan Ume Bubu bukan hanya tradisi menjaga hasil panen saja tetapi lebih dari itu. Asmanak telah menjadi contoh nyata usaha menyediakan pangan yang berkelanjutan dan Ume Bubu sebagai wujud upaya nyata untuk mempertahankan dan mendaulatkan pangan dalam lingkup keluarga. Tetapi, Asmanak dan Ume Bubu bersifat tradisional.

Pertanyaan muncul di kepala saya dan mengorek saya untuk terus bertanya. Sampai kapan tradisi ini bertahan seiring dengan kemajuan teknologi? Sampai kapan mereka bertahan menjaga perut warga Lelogama dari kebutuhan pangan? Sampai kapan mereka melindungi hasil panen petani Lelogama?

Sebelumnya, Saya merasa bangga karena menjadi penerima beasiswa KEJAR PALOK (Ketong Belajar Keberagaman Pangan dan Pangan Lokal) yang diselenggarakan Perkumpulan Pikul bekerja sama dengan OXFAM dan Austalian Aid. Lembaga non-profit ini sedang konsern pada isu Food Diversity and Sovereignty. Saya dan teman saya , Atta Loban, harus “bolang” (istilah untuk jalan-jalan sambil berpetualang) di Lelogama selama 7 hari pada tangal 12-18 Februari 2018.

Program ini merangkul gerenesi milenial untuk belajar tentang Kedaulatan dan Ketahanan Pangan, serta Keberagaman Pangan dan Pangan Lokal sebagai solusi untuk Kedaulatan Pangan. Ini tidak hanya kesempatan emas. Tetapi bertabur berlian dan permata. Mengapa ? Saya adalah bagian gerenasi milenial yang menjadi jembatan antara gererasi orang tua yang terlambat mengenal teknologi dengan akses yang lebih mudah seperti internet dan generasi mendatang yang diperkirakan akan lebih fasih teknologi sejak dini. Saya bersyukur dengan peluang ini untuk membuka wawasan dan cakrawala berpikir di bidang pangan. Belajar berpikir kritis bagaimana jika di masa depan, dengan adanya kemajuan teknologi, lantas menggeser tradisi kita terutama dalam bidang pangan?

Saya kembali teringat kisah pilu Mama Sarlin Pahnael (keluarga tempat kami menginap di Lelogama) dan Ume Bubu miliknya. Ia sudah mengalami kebakaran rumah bulat itu sebanyak 2 kali sepanjang hidupnya. Dikisahkan olehnya, kebakaran yang terjadi bukan karena hal yang disengaja. Tetapi karena ketidakhati-hatian pada saat memasak di Ume Bubu.

Material bangunan Ume Bubu yang alami dari kayu, bambu serta alang-alang adalah bahan yang menjaga penghuninya dari kedinginan di musim dingin dan memberikan kesejukkan saat musim panas namun sangat rentan dengan kebakaran jika terkena percikan api dari manapun. Inilah yang terjadi pada Mama Sarlin Pahnael yang Ume Bubunya harus rata dengan tanah. Asmanak yang menjaga pun terpaksa lenyap tak mampu bertahan. Ironis sekali. Lumbung tempat menyimpan persediaan makanan selama setahun bahkan lebih serta bibit untuk musim tanam selanjutnya ludes terbakar dan lenyap seketika.

Bukankah ini petaka? Bagaimana keluarganya bisa makan jika tidak ada persediaan makanan? Bagaimana mereka bisa menanam lagi jika tidak ada bibit? Baiklah. Ini masih skala kecil karena megorbankan 1 keluarga dan syukurnya, karena nilai kekeluargaan yang masih tinggi di daerah tersebut pada waktu itu, keluarga mama Sarlin Pahnael mendapat uluran kasih berupa bantuan pangan dari tetangga sekitar yang begitu peduli akan musibah ini. mereka masih bisa makan dan berkebun lagi sembari membangun dapur dan lumbung yang baru.

Saya lantas berimajinasi dengan pertanyaan-pertanyaan kepo, Bagaimana jika yang terbakar itu bukan hanya 1 lumbung, tapi beberapa lumbung di desa terpencil itu? Bagaimana jika yang ludes dan hilang lenyap itu bukan lumbung, tapi kebun tempat mereka menghasilkan bahan makanan, entah karena kebakaran atau peralihan fungsi lahan? Atau mungkin karena bencana alam yang menyapu rata bersih baik lumbung maupun kebun? Bukankah itu bisa menyebabkan kerawanan pangan di daerah tersebut? Bukankah kerawanan pangan bisa menyebabkan kelaparan bagi warganya? Entahlah. Semoga mereka tidak terisolir dari kepedulian sesama manusia dan kepedulian untuk menjaga pangan sebagai sumber kehidupan manusia.

Berbicara tentang kepedulian, apakah kita lantas hanya bergantung pada bantuan dari pihak luar? Kita punya mimpi untuk berdaulat pangan, bukan? Satu kisah menarik lainnya yang saya alami ketika berkunjung ke Lelogama adalah kegiatan KEJAR PALOK ini bersamaan dengan sosialisasi PKH (Program Keluarga Harapan) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia. Program bantuan bersyarat ini menjadi program prioritas nasional ini dinilai Bank Dunia sebagai program dengan biaya paling efektif untuk mengurangi kemiskinan dan menurunkan kesenjangan antar kelompok miskin, juga merupakan program yang memiliki tingkat efektivitas paling tinggi terhadap penurunan koefisien gini.

Berbagai penelitian lain menunjukkan bahwa PKH mampu mengangkat penerima manfaat keluar dari kemiskinan, meningkatkan konsumsi keluarga, bahkan pada skala yang lebih luas mampu mendorong para pemangku kepentingan di Pusat dan Daerah untuk melakukan perbaikan infrastruktur kesehatan dan pendidikan (informasi lebih lengkap dapat dibaca di http://www.kemsos.go.id/program-keluarga-harapan ). Salah satu jenis bantuan yang diberikan adalah Bantuan Pangan Non Tunai berupa beras dan telur.

Mengapa harus beras? Sedangkan warga Lelogama punya keberagaman serealia dan umbi-umbian. Saya dan Atta pun karena membawa misi berjudul “pangan” malah disangka petugas PKH oleh beberapa warga. Kami memang belum bisa memberikan bantuan seperti pemerintah tetapi kami membawa pengetahuan dan cara pandang ala milenial. Kami masih belajar dan nanti akan menyadarkan orang-orang tentang peran pangan lokal sebagai bagian dari keberagaman pangan untuk kedaulatan pangan.

Kendala terbesar dalam menyadarkan atau mengkampanyekan konsumsi pangan lokal adalah asumsi bahwa nilai pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian masih rendah dibandingkan beras, pengolahan yang lebih rumit, dan kurangnya inovasi pengolahan pangan lokal. Sangat disayangkan.

Hal ini terasa menggelitik ketika saya makan bersama keluarga di mana saya menginap di Lelogama maupun saat berkunjung ke rumah warga lainnya. Mereka harus merogoh kocek lagi untuk membeli beras di kios padahal mereka punya Pen Muti, Pen Molo, Pen Buka dan Anel Meto di Ume Bubu. Di meja makan pun, mereka meyediakan dua jenis sumber karbohidrat ini secara berdampingan.

Dengan hati bimbang, saya harus memilih untuk mengambil mana yang duluan, nasi atau jagung katemak (olahan pangan tradisional Timor dari jagung yang direbus bersama dengan sayuran dan atau kacang-kacangan). Lebih menggelitik lagi karena warga menyarankan makan nasi saja dulu baru makan jagung. Betapa mereka menghargai tamu dengan menyodorkan nasi dibanding hasil kebun mereka sendiri.

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa warga di Lelogama sudah tidak bergantung pada jagung atau umbi-umbian dari kebun mereka saja. Menurut cerita mama-mama di RT 10 di Kelurahan Lelogama ketika kami masak bersama, sejak masuknya beras sekitar tahun 1970an sampai 1980an, mereka sudah beralih ke beras. Alasannya cukup simpel. Mereka bisa langsung membeli beras di kios atau pasar dan mengolah beras menjadi nasi lebih mudah ketimbang mengolah jagung jadi Jagung Katemak, Jagung Bose, Sagu, dan atau U Foit. Mereka bisa punya banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal lainnya.

Bersamaan dengan kisah ini, Saya dan Atta “mengajak” Mama-Mama di RT 7 dan 10 Kelurahan Lelogama untuk kembali bernostalgia dengan kuliner tempo dulu berbahan dasar pangan lokal yang mereka miliki. saya berkeinginan untuk mencari tahu pengolahan pangan lokal apa yang sudah jarang sekali dilakukan dan apa kreasi pangan lokal apa saja yang mereka miliki. Saya ingin agar asmanak dalam ume bubu tetap memberikan inspirasi pengolahan jagung.

Gayung bersambut. You don’t need a silver fork to eat good food (Paul Prudhomme). Mama-mama tersebut mengambil bahan pangan lokal dari lumbung hidup mereka di kebun atau pun yang disimpan di Ume Bubu. Di RT 07, mereka menunjukan proses pembuatan U Amuk, kudapan lezat berbungkus daun jagung ini berbahan dasar jagung dan kelapa serta ditambah madu dan bisa awet hingga seminggu. U Amuk dulunya biasanya dijadikan bekal ketika pergi berkebun atau ke tempat yang jauh.

Prosesnya begitu panjang. Jagung harus ditumbuk terlebih dahulu dengan menggunakan alu dan lumpang kayu, dipisahkan antara ut (jagung yang sudah halus) dan slaut (jagung yang masih kasar) lalu ditumbuk lagi secara berulang dan ditampi hingga diperoleh ut. Ut ini kemudian dicampurkan dengan santan kelapa dan gula pasir (pengganti madu, karena belum musim panen madu). Sebelum direbus, satu hal menarik adalah mereka tidak menyia-nyiakan kulit jagung. Saya memandang bahwa tradisi ini cukup efisien dalam memanfaatkan kulit jagung menjadi kemasan ramah lingkungan serta menambah nilai estetika U Amuk.

Di RT 10, mama-mama kembali membuat olahan jagung dengan proses panjang seperti U Amuk juga. Namanya U Foit. Seperti halnya U Amuk, jagung yang sudah ditumbuk dipisahkan antara Ut dan slaut. Cara masaknya memang berbeda karena U foit bukan sekedar kudapan tetapi bisa setara dengan sumber karbohidrat utama di piring. Slaut dimasak terlebih dahulu dan ketika sudah agak lembek, barulah ditambahkan ut. Ssetelah matang, U Foit bisa dikreasikan menjadi tumpeng.

Dahulu, sebelum mengenal beras, U foit dikonsumsi khususnya balita atau orang tua yang tidak bisa mengkonsumsi jagung katemak atau jagung bose yang teksturnya lebih keras. Mama-mama di RT 10 juga kembali mengenang kreasi pangan lokal berbahan ubi kayu, pisang dan kelapa yang diperkenalkan Ibu Guru mereka sejak kelas 4 SD. Namanya Kokis Akiso Mataf (Kue Kaca Mata). Awalnya saya tertawa terbahak-bahak ketika mendengar namanya yang lucu dan penampakkannya yang sedikit menganggu di mata saya. Namun, ketika sudah matang dan dipotong-potong, barulah saya mengerti mengapa dinamakan demikian. Benar-benar mirip dengan kaca mata. Campuran ubi kayu dan kelapa sebagai bingkainya, dan pisang sebagai kacanya.

Beralih dari kisah hasil panen dalam Ume Bubu, kami menuju kebun mama Marselina Mafefa. Kebun adalah lumbung hidup. Tempat di mana calon-calon Pen Asmanak tumbuh. Tempat di mana peluh tumpah ketika menaman namun tawa lepas ketika panen. Di sinilah saya menemukan contoh keberagaman pangan lokal yang dimiliki warga Lelogama. Ada serealia berupa pen Muti, pen molo, pen buka, pen botog, toenenel dan anel meto. Dari golongan umbi-umbian ada laku haug, laku loli, lali mael, dan lali metan. Ada pula buah-buahan seperti boko meto, timu dan timu anel. Ini baru 1 kebun. Belum kebun warga lainnya. Menurut Mmama Mafefa, musim panen tanaman tersebut tidak bersamaan.

Sebagai contoh, saat kami berkunjung merupakan musim panen jagung muda. Jagung tua akan dipanen kemudian dan akan disimpan di Ume Bubu atau lumbung mereka. Lalu menyusul panen umbi-umbian yang dipanen pada musim panas. Pergiliran masa panen ini menurut saya bisa menjadi solusi untuk ketersediaan pangan dalam 1 musim tanam hingga ke musim tanam selanjutnya. Harapan saya, hasil panen mereka tetap mencukupi selama periode menunggu musim hujan. Bukankah Asmanak sudah menjaga lumbung mereka?

Berpindah dari kisah kebun, kamipun pergi mengunjungi pasar mingguan setiap hari Ssabtu. Di pasar, tidak banyak pangan lokal yang dijual. Banyak jenis makanan dalam kemasan seperti mie instant, gula, terigu dan bahan kebutuhan lainnya yang dijual. Kami pun sedikit kecewa Karena tidak mendapatkan apa-apa tentang pangan lokal. Tapi kemudian kami begitu bahagia ketika bertemu dengan mama Oktaviana Tamoes dari Desa Leloboko Kecamatan Amfoang Tengah yang berjualan Arbila dan koto fael. 2 jenis kacang hutan yang pengolahannya sangat memakan waktu dan boros tenaga. Bagaimana tidak? Kacang tersebut harus direbus 12 kali untuk menghilangkan racun mematikannya.

Kami pun bertemu dengan Mama Naomi Toleu, dari desa Fatumonas Kecamatan Amfoang Tengah. Mama Naomi menjual satu-satunya panngan lokal sumber protein yang kami temui di pasar Lelogama. Sisi Meto (daging kering), adalah daging sapi yang diiris panjang dan dikeringkan dengan cahaya matahari di musim panas atau asap api di Ume Bubu ketika musim penghujan tiba. Memang, sapi-sapi warga dilepas berkeliaran bebas di padang dan hanya 1 atau 2 ekor yang dipelihara di rumah tetapi tidak setiap hari mereka menyediakan daging sapi di meja.

Setelah ke pasar, kami bertamasya ria di sabana depan pasar. Indah memang di antara rerumputan hijau dan 5 – 10 ekor sapi di puncak bukit. Saya sempat bertanya pada Elen Pahnael (16 Tahun). Apakah dia pernah mengkonsumsi U Amuk dan U Foit? Ternyata jawabannya tidak pernah. Ia juga pertama kali mengkonsumsi makanan tempo dulu itu. Saya sangat tersontak kaget karena ini adalah kuliner di daerah mereka. Namun ia baru pertama kali mencobanya.

Saya kembali teringat Kisah Asmanak dan Ume Bubu. Akankah genrerasi milenial tetap menjaga tradisi ini? Atau mereka memilih mempertahankan Ume Bubu atau memilih dapur mewah dengan perabot mahal? Apakah Asmanak akan tetap menjadi jiwa yang menjaga pangan mereka atau akan diganti dengan Asmanak dalam rupa lainnya seiring perkembangan zaman? Entahlah. Jawabannya ada di tangan anak milenial yang memiliki keinginan untuk mendaulatkan pangan. Yang ingin agar perut tetap terisi sebelum aktivitas lainnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *