Butuh Modul Pelatihan untuk Warga tentang isu Pangan, Iklim dan Gender? Ini Ada!

Kebingungan mencari materi pelatihan yang kreatif untuk pembelajaran isu pangan, iklim dan gender untuk level warga? Modul produksi proyek FDS PIKUL – OXFAM ini bisa jadi pilihan.

Modul ini terdiri dari 7 bagian, yang dimulai dari materi tentang Pangan Layak sebagai Hak Asasi dan Hak Konstitusi hingga hubungan antara Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim dan Jender pada Isu Pangan. Idealnya modul ini digunakan dalam training selama 2-3 hari, sehingga memudahkan materi-materi di dalamnya diserap oleh peserta. Selain itu, modul juga dapat dipergunakan dalam aktivitas yang reguler, misalnya dalam paket pertemuan satu bulan sekali, atau mingguan.

Modul versi PDF dapat diunduh disini: http://bit.ly/modulpanganiklimgenderpikul

Modul ini adalah modul versi revisi dari Modul Pembelajaran Keberagaman Pangan untuk Ketahanan Pangan yang sudah diproduksi PIKUL pada 2015.

Materi yang ada dalam modul ini adalah: Mengenal Konsep Hak Atas Pangan, Ketahanan Pangan, dan Kedaulatan Pangan, Potensi Keanekaragaman Pangan dan Kedaulatan Pangan lewat Pangan Lokal, Apa Itu Perubahan Iklim (Pengetahuan Dasar tentang Perubahan Iklim), Gender dan Pangan dan Hubungan Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim dan Gender

Modul ini telah dicoba lewat Training of Trainers, pada 22 – 23 Juni 2018, di Yayasan Alfa Omega, Kupang NTT lalu dilakukan revisi atas masukan dari para kontributor. PIKUL, OXFAM dan Tim Penyusun mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para kontributor yang telah mencoba menggunakan Modul ini dan memberi masukan bagi penyusunan Modul ini. Mereka adalah:

1. Melsim Imelda Lalus, #Kupang Batanam
2. Megawati Liu, Relawan Kejar PALOK, PIKUL
3. Caritas Y. Seran, KPL Tafena Monit, Kel. Lelogama
4. Indrawati Sembe, POLITANI Kupang
5. Semly Bureni, KPL Tafena Monit, Kel. Lelogama
6. Evania Sale Gegu, Bengkel APPEK
7. Hedwig B. Boimau, Relawan Kejar PALOK, PIKUL
8. Yusi A. Kenat, KPL Betab, Desa Oh Aem 1
9. Petrus Katu, CIS Timor
10. James Gerson Mansula, Relawan Kejar PALOK, PIKUL
11. Alberty M. Olla, Relawan Kejar PALOK, PIKUL
12. Simson Y. Tamoes, KPL Tafena Monit, Kel. Lelogama
13. Oni Simus Toleu, KPL Bibilu, Oh Aem 2
14. Esau Babu, KPL Betab, Desa Oh Aem 1
15. Uriana Tanaos, KPL Betab, Desa Oh Aem 1
16. Velda A. K. Masus, KPL Tafena Monit, Kel. Lelogama
17. Yusi Parala, KPL Betab, Desa Oh Aem 1
18. Herlince Laitabun, KPL Nakbuah, Desa Uitiuhtuan
19. Delvince Sherly Pong, KPL Nakbuah, Desa Uitiuhtuan
20. Dorma M. Taek, KPL Betab, Desa Oh Aem 1
21. Cendana Malafu, KPL Bibilu, Oh Aem 2
22. Derista Lote, KPL Dalen Mesa, Desa Uitiuhana
23. Riska Buy, KPL Dalen Mesa, Desa Uitiuhana
24. Uniasis Lafu, KPL Dalen Mesa, Desa Uitiuhana
25. Roni Usius Neno, KPL Nakbuah, Desa Uitiuhtuan
26. Wempi A. Tepa, KPL Dalen Mesa, Desa Uitiuhana
27. Hartini Naetasi, KPL Tafena Monit, Kel. Lelogama
28. Wasty Benu, Komunitas KABISHAT
29. MariaTualaka, KPL Tafena Monit, Kel. Lelogama
30. Yuni E. Baun, Relawan Kejar PALOK, PIKUL

Nusa Tenggara Timur memiliki keragaman bahan pangan dari berbagai tanaman dan tumbuhan yang sengaja ditanam di lahan maupun yang tumbuh liar di tegalan dan hutan. Keterbatasan air dan lahan yang ada berusaha diatasi petani dengan teknik polikultur, yaitu menanam berbagai jenis tanaman pangan di tempat yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. Sistem tersebut mempertahankan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan pangan.

Disisi lain semakin banyak petani yang beranjak meninggalkan sistem tersebut dan berfokus menanam satu dua jenis tanaman untuk dijual ke pasar. Akibatnya ketersediaan bahan pangan untuk rumah tangga semakin lama semakin berkurang, baik secara jumlah maupun keragaman. Menurunnya pasokan bahan pangan dan kurang beragamnya pangan lambat laun menyebabkan berbagai permasalahan, salah satunya adalah kurang gizi.

Kondisi anomali cuaca (dan perubahan iklim) juga akan memperparah situasi ini. Dampak yang paling besar dirasakan dari anomali cuaca dan perubahan iklim pada sektor pertanian dan nelayan. Hal ini karena iklim merupakan faktor eksogen yang tidak dapat di kontrol. Dampak negatif paling terasa dari anomali dan perubahan iklim pada masyarakat petani lahan kering, terutama yang hanya mengandalkan jagung dan padi ladang sebagai hasil utama. Mereka adalah komponen yang paling rentan penghidupannya dan tidak siap ketika terjadi anomali iklim.

Situasi yang sudah pincang ini memperburuk relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam komunitas dalam aspek pembagian peran dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan tingkat rumah tangga. Dampak negatif dari anomali cuaca dan perubahan iklim mengharuskan para petani dan nelayan untuk lebih bekerja keras agar kebutuhan pangan keluarga terpenuhi, terutama pada perempuan yang secara budaya bertanggung jawab terhadap pemenuhan pangan di tingkat rumah tangga. Selain itu konteks ketidak adilan karena gender ini dalam pengalaman kami; merupakan salah satu hambatan utama dalam meragamkan pangan ditingkat rumah tangga.

Pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun yang lampau telah berkampanye mengenai pentingnya keragaman pangan dan konsumsi pangan lokal, perubahan iklim dan hubungannya dengan konteks gender, namun hingga saat ini pemahaman mengenai berbagai kampanye yang dilancarkan tersebut belum banyak dipahami dan diterapkan. Oleh sebab itu, PIKUL dan OXFAM merasa perlu untuk mengembangkan modul pembelajaran yang secara khusus melatih warga untuk memahami tentang Ketahanan Pangan (termasuk Kedaulatan dan keragaman pangan), Perubahan Iklim dan Gender untuk individu dan kelompok- kelompok masyarakat yang berminat untuk memahami dan mempraktikkan pembelajaran ini.

Kami menyadari bahwa modul ini bukanlah modul yang sempurna. Namun kami berharap, berbagai materi di dalamnya dapat dipergunakan oleh para individu dan kelompok-kelompok untuk mengembangkan keragaman dan kedaulatan pangan di komunitasnya maupun wilayah yang lebih luas lagi. Semoga bermanfaat.

Selamat mempergunakan!

PIKUL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *