Sejarah

 

BIOGRAFI ORGANISASI PERKUMPULAN PIKUL

 

“After you’ve done a thing the same way for two years, look it over carefully. After five years, look at it with suspicion. And after ten years, throw it away and start all over. ” – Alfred Edward Perlman

 

FANPAGE3PIKUL sebagai organisasi adalah sistem yang hidup. Pikul berkembang terus menerus dan memberi makna pada apa yang dilakukannya. Sejak awal pembentukannya, Pikul terbuka untuk  perubahan dan telah melakukannya untuk memastikan visi, prinsip, semangat, gagasan, tata kelola dan aktivitasnya tetap relevan dengan perkembangan konteks.

Biografi singkat ini menceritakan tentang periode-periode perkembangan Pikul sejak pembentukannya (1998) sampai dengan sekarang (2010). Tentang kepala, hati dan kaki Pikul dari masa ke masa. Tentang apa yang menjadi gagasan utama (kepala), nilai-nilai (hati) dan pekerjaan (kaki) Pikul, yang dibagi secara garis besar menjadi 3 periode.

Periode Pertama, 1998 – 2005
Periode ini adalah periode dimana Pikul berperan besar memperkuat gerakan advokasi hak di Indonesia Bagian Timur: organisasi lingkungan bersama rakyat korban tambang di Kalimantan, organisasi HAM bersama rakyat korban konflik di Sulawesi Tengah, organisasi HAM dan korban kekerasan negara di Papua dan Timor Leste (sebelum merdeka), organisasi-organisasi perempuan di seluruh Indonesia Timur, organisasi-organisasi lokal yang mengadvokasikan pendekatan pengurangan risiko (preventif) terhadap bencana sosial, ekologis, klimatologis di NTT, Sulawesi dan Papua. Di periode ini Pikul juga menguatkan jejaring strategis untuk menajamkan advokasi, baik antar mitra di Indonesia Timur, dengan organisasi berprinsip sama di nasional maupun internasional.

FANPAGE4Pikul yang dibentuk secara sah tahun 1998 adalah organisasi pionir yang bekerja dengan passion untuk membuat perubahan. Para pendiri Pikul (Chalid Muhammad – aktivis lingkungan, tinggal di Jakarta; Rambu Atanau Mela – aktivis perempuan, tinggal di TTS, NTT; Galuh Wandita – aktivis perempuan dan HAM, yang menjadi direktur pertama) memutuskan untuk berkantor di Kupang, NTT agar lebih dekat dengan medan perjuangannya. Pendirian Pikul didukung oleh Oxfam Australia dan secara formal Pikul adalah principle client.

Pada masa ini Pikul bekerja melalui 3 program besar: (1) Program Hak Asasi dan Kesehatan Perempuan; (2) Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Hak Masyarakat Adat; (3) Penanggulangan Bencana. Pikul sendiri mengambil peran perantara, yang berdiri di garis belakang untuk memastikan perjuangan hak dilakukan langsung oleh rakyat setempat. Pikul memberikan dukungan kepada lebih dari 40 organisasi lokal di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT, Timor Leste (masih Timor Timur, sebelum merdeka) dan Papua. Pikul juga memberikan bantuan-bantuan darurat untuk korban bencana.

Periode kedua, 2006 – 2009
Periode ini adalah periode dimana Pikul mulai memberi porsi perhatian lebih pada hak-hak ekonomi, sosial dan budaya di Indonesia Timur. Perubahan pasca reformasi menjadi salah satu pemicu perubahan moda perjuangan Pikul ini, yang menekankan pada 4 hak dasar rakyat: air, pangan, enerji dan kesehatan. Pikul kemudian mulai mendukung inisiatif-inisiatif pemenuhan hak dasar tersebut, dengan percaya bahwa rakyat mampu memenuhi sendiri secara inovatif, bila prasyarat-prasyaratnya dilindungi dan dihormati oleh negara.

FANPAGE5Di dalam organisasi sendiri mulai diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan reflektif: tidakkah kerja-kerja Pikul menjadi demikian tersegmentasi dalam program-program, sehingga terkadang sulit memahami suatu masalah secara komprehensif? Apa sebenarnya perubahan menyeluruh yang diinginkan Pikul sebagai sebuah organisasi? Apa akan dirayakan Pikul sebagai kemenangan?

Pikul kemudian, melalui serangkaian pencariantahu yang sistematik, kemudian memvisualisasikan cita-cita perubahannya sebagai “rakyat berdaulat atas air, pangan, enerji dan kesehatan, termasuk dalam kondisi bencana”. Untuk mencapai visi tersebut, Pikul melebur program-program  dalam pendekatan wilayah dengan kluster: Sulawesi, Papua dan NTT.

Lewat program payung ‘From Practices to Policies: People’s Initiatives for People’s Rights’, Pikul memberi dukungan terhadap inisiatif-inisiatif pemenuhan hak dasar air, pangan, enerji dan kesehatan di tingkat basis. Advokasi tetap menjadi pendekatan utama, terutama lewat counter terhadap arus utama wacana pembangunanisme.

Inisiatif-inisiatif ini didukung lewat 25 organisasi lokal yang melakukan pengorganisasian di basis bersama kelompok-kelompok perempuan, masyarakat adat, komunitas pasca konflik, kelompok petani, serta komunitas-komunitas terpinggirkan lainnya.

Pikul pun melakukan perubahan bentuk organisasi. Pikul menyadari bahwa peran masyarakat sipil pasca 1998 sedang berubah. Di satu sisi, negara menjadi lebih ‘manis’ terhadap gerakan-gerakan perubahan, tetapi disisi lain makin membelit dengan aturan-aturan formal, antara lain dengan UU Yayasan.

Pikul mengubah bentuk organisasi menjadi perkumpulan, untuk lebih demokratik dalam pengambilan keputusannya, dan lebih inklusif dalam gerakannya. Masih dalam taraf awal, Perkumpulan Pikul adalah perkumpulan terbatas dengan 15 orang anggota, yakni mereka diyakini memahami Pikul, mendukung nilai dan prinsip Pikul.

Periode ketiga, mulai 2009

sejarahpikul2Inilah Pikul sekarang. Pikul yang belajar dari 11 tahun super berharga, bersama organisasi lokal di Indonesia Timur. Pikul yang belajar bahwa perubahan bisa dilakukan oleh orang-orang biasa yang bervisi dalam solidaritas dengan manusia dan alam, dan percaya pada kemampuannya untuk mandiri sekaligus saling mendukung. Mereka inilah yang bisa menjadi pioneer perubahan, yang bisa membalik krisis sosio-ekologi di wilayahnya, bukan memperbaiki krisis yang ada.

Pikul mengusung mimpi Kampung Berdaulat 2016: berdaulat atas air, pangan dan enerji. Kampung adalah wilayah hidup, dimana warga merasa memiliki dan nyaman sebagai rumahnya. Pikul percaya, tanda-tanda awal kampung berdaulat adalah warga yang terorganisir, mengenali dan menghargai kekuatan dan sukses mereka. Warga yang punya agenda masa depan mereka, apa yang harus mereka lakukan dan memanfaatkan sumber daya dan kesempatan yang ada untuk mencapai cita-cita mereka.

Lewat serangkaian pemindaian, Pikul memilih bekerja di pulau-pulau kecil di Indonesia Timur, dimana realita krisis sosio ekologi terasa brutal. Pikul memulai misinya di Pulau Adonara, Pulau Solor, Teluk Kupang dan Kepulauan Alor, dengan mencari individu dan komunitas yang telah mengerjakan misinya, melakukan inovasi dan menerobos krisisnya menuju kampung berdaulat.  Pikul memperbesar ruang berbagi dan belajar dalam Lingkar Belajar Komunitas Bervisi. Di sini, ada apresiasi tinggi terhadap terobosan dan inovasi, ada pertukaran dan pengayaan pengalaman dan pengetahuan, ada penggalangan solidaritas dan penajaman tapak-tapak menuju visi kolektif.

Pikul percaya bahwa organisasi adalah sistem yang hidup dan perubahan adalah keniscayaan. Untuk tidak menjadi kuno, Pikul berupaya menjadi organisasi yang asosiatif dan inklusif tanpa terjebak menjadi gendut dan lamban.

sejarahpikulPikul menjadi milik banyak orang, para anggota, associates dan relawan. Pikul menjadi milik mereka yang tertarik untuk belajar bersama dalam pengerjaan misi masing-masing. Pikul membuka ruang untuk meneliti, mengfasilitasi, membuat publikasi-publikasi ataupun untuk berdiskusi berbagai fenomena.

Pikul berupaya untuk menjadi hub pengetahuan yang terbuka. Pikul saat ini adalah Pikul yang didukung oleh lebih dari 20 associates aktif, 50 relawan dan berbagai komunitas inovatif di bidang sosial, teknologi maupun profesi.

Lewat serangkaian pemindaian, Pikul memilih bekerja di pulau-pulau kecil di Indonesia Timur, dimana realita krisis sosio ekologi terasa brutal. Pikul memulai misinya di Pulau Adonara, Pulau Solor, Teluk Kupang dan Kepulauan Alor, dengan mencari individu dan komunitas yang telah mengerjakan misinya, melakukan inovasi dan menerobos krisisnya menuju kampung berdaulat.  Pikul memperbesar ruang berbagi dan belajar dalam Lingkar Belajar Komunitas Bervisi. Di sini, ada apresiasi tinggi terhadap terobosan dan inovasi, ada pertukaran dan pengayaan pengalaman dan pengetahuan, ada penggalangan solidaritas dan penajaman tapak-tapak menuju visi kolektif.

Mari bergabung bersama kami! ***

Tinggalkan Balasan