Bapak Buga, adalah seorang Koten, atau tuan tanah di Desa Lama Ole. Sangat memperhatikan kelestarian hutan dan berupaya keras mengurangi pembakaran di ladang-ladang. Sebagai koten, beliau tinggal di rumah adat yang keseluruhannya dibuat dari bambu dan kayu.
Bapak Buga merasa senang karena mendorong para petani di Lama Ole untuk berkelompok dalam bekerja kebun dan mulai melakukan konservasi lahan seperti menggunakan guludan di lahan miring. Penduduk desa Lama Ole bisa dikatakan tertib dalam mengikuti anjuran anjuran sang Koten, karena itu tidak terlalu sulit bagi Bapak Buga untuk memberi contoh dan pengertian.
Lewat pertanian berkelompok dan konservasi lahan, tingkat pembakaran lahan menjadi jauh berkurang. Dulu, hampir setiap tahun penduduk desa selalu membuka lahan, tetapi sekarang menjadi 5 tahun sekali dan tidak lagi melakukan pembakaran untuk berburu rusa dan babi hutan.
Bapak Buga saat ini sedang mencoba melakukan inovasi okulasi untuk meningkatkan hasil tanaman buah. Juga sedang mengembangkan tanaman kakao di wilayah-wilayah lahan kritis di Lama Ole.
“Desa Lama Ole sebetulnya sangat subur, tetapi jalan masuk yang tidak ada, kami memiliki banyak sekali hasil tapi sulit dijual karena tidak ada prasarana jalan. Demikian juga, air masih mengambil di sumber air yang baik, dan listrik tidak ada. Kami bermimpi agar tersedia jalan untuk menjual hasil kebun, serta juga listrik, dan air bisa masuk ke rumah-rumah.”***