| Orang 'Gila' Perintis PKBM Sonaf Marthin |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Friday, 16 September 2011 02:41 |
|
"Dulu saya berhenti dari PNS orang bilang saya gila karena semua orang rebut kursi PNS" Berbagai 'kegilaan' om Johny ini bukan tanpa sebab dan tujuan. Justru keputusan-keputusan tak lazim yang diambil, mengantarnya pada cita-cita mulia untuk memandirikan masyarakat pedesaan. Menurut om Johny, kemandirian itu dapat terwujud dengan memutuskan 'lingkaran setan' mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga keterbatasan ekonomi karena rendahnya produktivitas yang berakibat pada tidak terpenuhinya hak-hak dasar (terutama pendidikan dan kesehatan) yang menjadi modal peningkatan SDM. Om Johny terispirasi dari almahrum Martinus Manoe (ayahnya) yang mengabdikan hidupnya sebagai guru di Tanini sejak tahun 1948. Sebagai anak guru, om Johny mengalami suka duka hidup di kampung ini. Tanini merupakan salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Takari dimana lebih dari 90% penduduknya bekerja sebagai petani. Sebagian besar anak usia sekolah hanya mengenyam pendidikan SD yang kebetulah ada di Tanini. Rupanya ingatan akan kehidupan di kampung yang sulit terjangkau pada musim hujan ini mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Ide untuk mendirikan SMP Plus yang kemudian diganti menjadi PKBM Sonaf Marthin bermula dari pengalaman personal om Johny. Kematian ayahnya pada tanggal 5 Oktober 2005 menjadi titik balik dalam hidupnya. “Kala itu beberapa delegasi masyarakat Taimaman-Tanini mendatangi keluarga kami dan meminta agar jasad almarhum dimakamkan di sana. Karena keluarga sudah memutuskan bapa dikuburkan di Kupang maka saya menerima kedatangan mereka sebagai tanda untuk kembali ke kampung dan berbuat sesuatu sebagai kenangan,” tutur om Johny. Awalnya keluarga sepakat untuk mendirikan monumen. “Begitu ketemu masyarakat, secara tiba-tiba saya bicara pendidikan tanpa berpikir apa akibatnya,” kenang om Johny. Tekadnya sudah bulat untuk mencari jalan memberdayakan masyarakat lewat pendidikan. Sebagai orang yang akrab dengan lingkungan Tanini, om Johny mengetahui dengan baik situasinya. Menurutnya, masyarakat Tanini masih merupakan petani dan peternak subsistem. Mereka belum mengembangkan pertanian dan peternakan untuk skala yang lebih besar dan menjangkau pasar yang lebih luas. Berbagai program pemerintah seperti KUT, IDT, koperasi, PKH, dan program lainnya tidak membawa hasil signifikan. “Persoalannya terletak pada sumber daya manusia termasuk mentalitas masyarakat. Oleh karena itu butuh waktu dan kesabaran,” katanya. Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan SDM dan mengubah mentalitas masyarakat adalah lewat pendidikan. Sebagian besar masyarakat hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar. Mereka yang berhasil hingga ke perguruan tinggi lebih memilih bekerja di sektor formal dan tinggal di tempat lain. Oleh karena itu pendidikan non formal seperti yang dilakukan om Johny sangat tepat. Selain latar belakang masyarakat Tanini yang dikenalnya, om Johny juga mengungkapkan beberapa alasan membangun PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakt) Sonaf Marthin. Pertama, Undang-undang Sisdiknas (UU 20 tahun 2003) menempatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan di bidang pendidikan. Kedua, pendidikan non formal mampu menghasilkan out put dengan keterampilan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Ketiga, masyarakat yang hidup dari pertanian dan peternakan sudah memiliki pengetahuan dan kearifan lokal. Hanya butuh sedikit tambahan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan peternakan mereka. Bermodalkan tekad om Jhoni mulai mewujudkan kata-kata dan impiannya. “Awalnya saya menghimpun keluarga dan sahabat kenalan untuk membicarakan ide itu dan mengumpulkan perpuluhan mereka,” kisahnya. Tanggal 7 Juli 2006 dikirimlah surat kepada Kepala Desa Tanini untuk menyampaikan rencana yang telah disepakati keluarga. Seminggu kemudian utusan keluarga ke Taemaman di Tanini untuk bertemu kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat. Sambutan baik datang dari semua masyarakat setelah tiga kali dilakukan pertemuan di kantor desa, gereja Jemaat GMIT Elim TaEmaman, dan di rumah pribadi Kepala Desa Tanini. Keinginan masyarakat ini makin diperkuat dengan informasi lisan yang dihimpun mengenai jumlah anak putus sekolah di tingkat SLTP yang mencapai 179 orang. Akhirnya disepakati berdirinya SMP PLUS Sonaf Marthin pada tanggal 21 Agustus 2006. Maka dimulailah kegiatan belajar mengajar SMP PLUS Sonaf Marthin dengan jumlah siswa angkatan I 2006/2007 sebanyak 17 orang. Walaupun tidak sebanding dengan jumlah anak putus sekolah namun ini merupakan langkah awal yang baik karena tahun ajaran berikutnya jumlah siswa meningkat menjadi 23 orang. SMP baru ini mempunyai nilai plus karena siswa dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanian, dan peternakan. “Masyarakat mesti diubah orientasinya dari mengutamakan status sosial dan pekerjaan sebagai PNS menjadi masyarakat yang berorientasi wiraswasta,” tegas om Johny. Untuk mencapai tujuan ini maka pihak yayasan telah melakukan pendekatan kultural dengan tokoh-tokoh adat serta pemegang hak ulayat atas tanah. Tahun 2007 masyarakat menyerahkan sebidang tanah untuk digunakan sebagai kompleks sekolah yang di dalamnya terdapat gedung sekolah darurat, rumah guru darurat yang dilengkapi MCK, dan sarana olah raga berupa lapangan voli dan lapangan bulu tangkis serta lahan yang digunakan untuk wadah praktikum pertanian dan peternakan. Berbagai keberhasilan saat ini tidak terlepas dari berbagai tantangan yang memacu semangat om Johny. Tantangan awal datang ketika SMP PLUS Sonaf Marthin selesai diresmikan tahun 2006. Pihak UPTD Dinas P dan K Kecamatan Takari melarang pihak SMP PLUS memanfaatkan gedung dan perabot SD GMIT No. 54 Taemaman. “Mereka mencoba memberikan laporan kepada DPR bahwa pak Johny melakukan kekacauan sistem pendidikan dan menakut-nakuti anak-anak agar tidak masuk SMP plus,” kisah om Johny dengan senyum getir. Situasi ini tidak menyurutkan semangat om Johny. Om Jhoni mengorganisir masyarakat dengan hati. Ia bahkan berjalan dari kampung ke kampung untuk mensosialisasikan apa yang dilakukannya. Kegembiraan justru diperoleh ketika banyak orang mendukung dan menyekolahkan anaknya di PKBM Sonaf Marthin. Pada perayaan Paskah tahun 2007, ia mengundang Bapak Drs. IA Medah, sebagai Bupati Kupang dan Ibu Ruth Nina Kedang, SE sebagai anggota DPR RI Komisi IX yang menangani bidang pendidikan ke Tanini. Relasi dengan ibu Ruth ini tetap terjalin dan menjadi cikal bakal pergantian nama SMP PLUS menjadi PKBM Sonaf Marthin. Tanggal 25 April 2008, ibu Ruth mempertemukan pihak Yayasan Sonaf Marthin dengan Kasub Din PLS Propinsi NTT, Ir. Marthen Dira Thome. Om Johny menceritakan banyak hal tentang apa yang sedang dilakukannya di Tanini. Pak Martin kemudian menerbitkan Surat keputusan Izin Operasional melalui Sub Din PLS pada Dinas P dan K Kabupaten Kupang. Sejak itu, SMP PLUS Sonaf Marthin berubah nama menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sonaf Marthin. Sejak tahun 2008 PKBM ini dilirik pihak lain. ILO EAST untuk program life skill bekerja sama dengan dinas perindustrian mendatangkan instruktur untuk mengajarkan 21 jenis olahan pangan lokal selama 1 bulan. Selain itu ada Yayasan Nusa Bunga dan juga stimulan dari pemerintah, PLS provinsi NTT dan UPT PPNFI Dinas PPO Provinsi NTT. Untuk meningkatkan keterampilan peserta didik maka diadakan berbagai kursus perbengkelan dan otomotif, meubeler dan magang di Kupang selama 1,5 tahun bagi para peserta didik. Semua siswa/i yang belajar di sini tidak dikenakan biaya atau GRATIS! “Mereka dijamin penuh mulai dari sabun, minyak tanah, garam, jagung, beras, pakaian bekas, pakaian baru, tanpa meminta sepeserpun dari orang tua. Banyak hal yang ditanggung oleh keluarga and yayasan,” tutur om Johny dengan bangga. Tokoh-tokoh adat memperbolehkan mereka mengolah lahan di dalam maupun di luar kompleks PKBM tergantung kemampuannya. Kini mereka memelihara sekitar 60 ekor babi dan 5 ekor sapi. Peluang ini membuat om Johny mengundang Geng Motor Imut mengajarkan pembuatan biogas. “Anak-anak sudah mulai memproduksi dalam skala kecil seperti sayur-sayur di demplot-demplot tempat mereka belajar. Ke depannya, usaha pertanian dan peternakan ini diharapkan mampu menopang kehidupan PKBM,” ungkap om Johny dengan mata berbinar. Peserta didik Paket B (usia 13 - 19 tahun) diasramakan kecuali yang telah berkeluarga. Pola ini diharapkan membantu siswa/i melatih kemandirian dan berbagai teori serta praktek diserap dengan lebih intensif. Mereka menggunakan lopo-lopo darurat yang dibangun penyelenggara di area PKBM untuk proses belajar mengajar. Para tutor didatangkan dari kabupaten dan provinsi untuk mengajar mereka. Yayasan mempunyai mimpi untuk membangun juga sekolah lanjutan atas. “Pada aras sekolah menengah atas mereka akan dibekali dengan berbagai teori, antara lain: manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen keuangan usaha kecil, serta teori-teori penunjang lainnya yang berorientasi pasar,“ tandas om Johny. Pada level ini para sisiwa diharapkan sudah terarah pada agrobisnis dan pasca panen untuk menambah pendapatan riil. Selain mendidik anak-anak, om Johny juga telah menghimpun 9 kelompok tani yang akan didukung dengan pendirian koperasi Sonaf Marthin yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan. “Ada yang bertanya kelompok tani untuk apa? Bahkan ketika saya mendatangkan petugas dari Dinas Pertanian, peserta yang mengikuti kegiatan ini ditertawakan oleh yang lain karena menggangap yang dibicarakan palingan cuma tanam padi dan jagung yang biasa dilakukan,” ungkap om Johny menirukan apa yang dikatakan masyarakat. Tantangan ini bukan hanya sampai di sini. Ada juga orang berpendidikan yang menyebarkan isu bahwa PKBM merupakan lembaga dengan ijazah ilegal. Di tengah berbagai tantangan ini, om Johny menemukan kekuatan dan dukungan dari berbagai pihak terutama istrinya M.H. Manoe Mandala. Setelah 5 tahun berjuang, baru pada ulang tahun Sonaf Marthin ke-5 ini sang istri berkunjung ke Tanini. “Dia hanya ungkapkan satu kata 'mulia.' Ternyata, di saat in jure time dalam hidup ini, saya bisa membuktikan makna hidup pada sesama,” ucap om Johny dengan senyum. Om Johny akan terus berjuang menggapai mimpinya. “Saya ingin suatu saat masyarakat membuat statement 'tolak raskin' dengan peningkatan produksi di bidang pertanian dan peternakan. Peningkatan pendapatan masyarakat akan mengurangi ketergantungan mereka pada bantuan. Tempat ini akan menjadi kantong produksi,” ungkapnya berapi-api. ***(andry ratumakin) |
| Last Updated ( Tuesday, 18 October 2011 15:31 ) |



“Dulu saya berhenti dari PNS orang bilang saya gila karena semua orang rebut kursi PNS. Saya justru dengan enteng minta berhenti sebagai PNS tahun 1990 setelah 14 tahun mengabdi. Almahrum papa bahkan mendatangkan tim doa untuk melayani saya secara pribadi. Predikat orang gila kembali dilontarkan ketika saya berhenti sebagai dosen ekonomi di UNKRIS tahun 2008 dan pulang ke kampung. Saya dipandang sebelah mata ketika tanpa malu-malu memilih barang-barang bekas seperti pecahan-pecahan keramik, spanduk-spanduk bekas, sak semen, seng-seng bekas, pintu-pintu pagar besi untuk dibawa ke kampung,” cerita om Johny dengan mata berkaca-kaca. Bapak dua anak yang unik dan tangguh ini bernama lengkap Mesakh Johny Manoe. Om Johny (sapaan akrabnya) lahir di Kupang 27 Februari 1957. 




















Comments
salam
RSS feed for comments to this post