Home Inspirasi “Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit” | Profil Maria Loretha, Penggagas Sorgum Waiotan Farm
“Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit” | Profil Maria Loretha, Penggagas Sorgum Waiotan Farm PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 09 August 2011 02:52

Orang yang belum mengenalnya tidak akan percaya bahwa ibu empat anak ini adalah seorang petani sukses.

Ibu berkulit putih ini bernama Maria Loretha. Bu Tata, panggilan akrabnya, lahir di Ketapang, Kalimantan Barat 28 Mei 1970, keturunan Dayak Kanayatan dan Otdanum. Sejak kecil hingga menyelesaikan kuliah, Bu Tata tinggal di kota. Ia memulai SD Usaba di Ketapang, SMP Mater Alma di Ambarawa-Jateng, SMA St. Fransiskus I Jakarta hingga S1 Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang. Setelah menamatkan kuliahnya, Bu Tata sempat bekerja di sebuah broadcast sebagai announcer.

Krisis multidimensi Indonesia tahun 1999 turut berdampak pada kehidupan ekonomi keluarganya. Keputusan harus dibuat ketika sang suami menawarkan untuk tinggal di desa terpencil Pajinian-Adonara Barat, Flores Timur. Bu Tata sempat bertanya kepada sang suami, apa jaminan kembali ke Flores. “Suamiku mengatakan bahwa ia mempunyai kebun yang luasnya 6 ha di pinggir pantai. Di sana tempatnya sangat indah,” kenang Bu Tata. Situasi ini memberi harapan baginya walaupun awalnya Bu Tata agak canggung karena membayangkan Flores merupakan daerah kering dan gersang.

Tahun 2000, dari Malang, Jawa Timur, mereka pindah ke Kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur. Bu Tata yang enerjik melibatkan diri dalam berbagai kegiatan. Tahun 2000-2001 ia aktif dalam kelompok menganyam tali gebang dan kerajinan dari bambu serta pengolahan pangan lokal  di bawah binaan Disperindag Kabupaten Flores Timur. Akan tetapi, kelompok ini bubar sejak Ibu Tata memutuskan untuk pindah ke Adonara Barat tahun 2002. “Kami pindah karena kami mempunyai lahan/ kebun seluas 6 Ha. 3 Ha untuk menanam jambu mete sedangkan 3 Ha untuk tanaman pangan. Keputusan ini diambil karena realistis saja. Anak-anak semakin besar dan kami mau kerja apa di Larantuka?” ungkapnya. Di Desa Pajinian, Bu Tata membentuk kelompok untuk mengolah pangan lokal dan tentu saja tetap aktif dalam berbagai kegiatan di desa, kecamatan, kabupaten dan gereja.

Ketertarikan membudidayakan sorgum bermula dari pengalaman kecilnya di desa Pajinian akhir tahun 2007. Ia mengenal sorgum (wata blolon=sebutan dalam bahasa Lamaholot) dari Ibu Maria Helan,  tetangga di kebun yang mendapat sorgum dari kakaknya di desa Hurung. “Dia memberiku sepiring sorgum kukus. Ternyata rasanya enak, sedap dan gurih,” kenang Ibu Tata. Sejak saat itu ia mulai berpikir untuk mengembangkan tanaman lokal, terutama sorgum. Ia bahkan menjatuhkan pilihan  untuk menjalani hidup sebagai petani di tengah berbagai tawaran akan jenis pekerjaan lain. “Sungguh tidak mudah menghadapi tantangan ini di tengah banyak pertanyaan, mengapa tidak melamar jadi guru? Kenapa tidak menjadi PNS? kenapa mau bekerja kotor? Kenapa tidak tinggal di kota yang penuh fasilitas? Kenapa dan kenapa?” kisah Ibu Tata dengan senyum.

Tekadnya sudah bulat dan ia mulai banyak bertanya pada teman-teman sesama petani bagaimana memilih benih jagung, jenis padi, wijen, jelai dan tentunya sorgum yang baik. Ia juga mencari tahu tanaman lokal apa saja yang pernah ada di desa dan bagaimana cara menanam serta merawatnya. Informasi pengolahan pangan lokal dan kandungan gizi dicari juga dari buku-buku pegolahan pangan lokal, internet, majalah Sinar Tani, dan teman-teman penyuluh di badan Ketahanan Pangan Flores Timur. “Saya belajar bertani dari pengalaman langsung sebagai pelaku utama. Saya tinggal di kebun bukan di desa berbaur dengan masyarakat. Oleh karena itu saya memang fokus terhadap pertanian,” tandasnya.

Awal tahun 2008, Ibu Tata mulai mengembangkan jagung Solor dan jewawut walaupun hanya sebagai tanaman sela. Hasilnya cukup untuk makan serta benih berikutnya. Akhirnya Bu Tata menemukan gagasan untuk melestarikan dan mengembangkan tanaman pangan lokal langka. Bukan hanya jagung Solor dan jewawut tetapi juga sorgum, jagung lokal, jelai, wijen atau lenga, dan padi hitam. Bu Tata  menamakan proyek ini “Sorgum Waiotan Farm”, karena lokasi ladang kering mereka di kampung Waiotan, Desa Pajinian.

Mulailah ia berburu benih. Ternyata tidak mudah mendapatkan benih ini. Ia mendapatkan sorgum coklat dari Bernad Soge di desa Pajinian, sorgum dan jewawut dari Agustinus di desa Nabo Kie-Ilebura, sorgum merah dan sorgum hitam dari Waisete-Maumere, jelai dari Pater Piet Nong, SVD di Hokeng, serta biji wijen dari Ibu Frederika di Lohayong-Larantuka. Akan tetapi Ibu Tata memilih lebih fokus mengembangkan sorgum di lahannya. “Motivasi saya sederhana saja. Potensi lahan kering (80%) kita di Flores dan Lembata lebih besar dibandingkan lahan basah. Sorgum sangat potensial ditanam di lahan kering tidur di daratan Flores dan Lembata. Asal tidak ditanam di ketinggian lebih dari 500 m dari permukaan laut. Sorgum dapat tumbuh baik di tanah berpasir dan berbatu. Saya juga lebih memilih tanaman asli karena : 1) melestarikan tanaman ini yang mulai sulit dan langka, 2) tanaman lokal (sorgum, jagung pulut, padi hitam, jelai, wijen, jewawut) lebih toleran dengan kondisi alam kami yang minim curah hujan, 3) kurang disukai hama OPT karena baunya yang khas, “ demikian tutur Bu Tata.

Mengapa Sorgum? Karena tanaman sorgum dapat dibudidayakan dilahan yang kurang subur, air yang terbatas, bahkan di tanah berpasir pun sorgum dapat tumbuh dengan baik dan dapat beradaptasi pada tanah yang tergerus air. Selain itu perawatannya mudah dan tidak disukai hama tanaman. Menurutnya sorgum merupakan tumbuhan ajaib dan dapat menjadi alternatif pangan yang sustainable. Bahkan kandungan gizi sorgum jauh lebih tinggi dari beras. Kandungan besinya 5,5 kali lipat dari beras. Vitamin B1 4,7 kali lipat beras dan kalsium 4,6 kali lipat beras. “Tumbuhan ini juga tidak terlalu rewel. Kita bisa menanam di luar musim. Saya melakukan uji coba menanam sorgum tiga kali setahun karena sorgum bisa tumbuh baik dengan sedikit air dan bertahan di musim kemarau. Hanya satu bulan pertama merawat sorgum selanjutnya biarlah alam yang memeliharanya,” tutur Bu Tata. Hasil sorgum ini juga dapat diolah menjadi pakan ternak baik unggas, sapi dan kuda. Bu Tata sudah mencoba pada ternak ayam mereka.  Sorgum dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Mulai dari kue-kue basah sampai bubur yang lezat. Kue sorgum, nasi goreng sorgum, sorgum lemang (sorgum dicampur santan kelapa kemudian dimasak dalam bambu), dan bir sorgum sudah mulai dikembangkan.

Ibu Tata dan suami mulai merencanakan membuka dan mengolah lahan, mengusahakan pupuk organik dan tenaga kerja. Mereka membuat demplot Sorgum Waiotar Farm yang ditanam di luar musim pada bulan Juli 2010. “Disaat gencarnya diversifikasi pangan, anomali cuaca, serangan OPT, dan pemanfaatan lahan tidur kering, saya berani katakan SORGUM BERGIZI, SORGUM BERDUIT,” tegasnya. Ini menjadi mantra kebun atau demplot pengembangan sorgum. Bayangkan, di lahan  seperempat hektar ternyata mampu menghasilkan ±1.300 kg sorgum. Harganya Rp.5,000/kg. “Kalau kita tanam sorgum setahun dua kali saja di lahan minimal 1 Ha maka akan menghasilkan biji sorgum ± 4 ton/Ha dengan kebutuhan benih ± 8 kg/Ha. Kalikan saja dengan Rp.5000/Kg, berapa uang yang bisa  didapat?” tambah ibu Tata dengan mata berbinar.

Dampak nyata usaha pertanian lahan kering mulai dirasakan dua tahun terakhir ini.  “Gara-gara sorgum ini, nama saya mulai dikenal di kalangan kelompok-kelompok tani,” ceritanya sambil tersenyum. Undangan pertama untuk Ibu Tata, datang dari Ibu Siti ketua APPEL (Asosiasi Petani Padi Lembor) di Manggarai Barat. Ada 4 demplot yang dibuka di sana yaitu di Desa Surunumbeng seluas 2 Ha, Desa Palis 1 Ha, Desa Tangge 0,5 Ha, dan Desa Siru 0,25 Ha. Kemudian undangan kedua datang dari ketua Gapoktan Zainal Abidin di Desa Onderea Barat Ende. Ada 3 kecamatan yang dikembangkan di sana, yakni: Kec. Nangapenda di Desa Ondorea Barat seluas 1,5 Ha, Kec. Wewaria di Desa Mukusaki seluas 1 Ha, dan Kec. Detukeli di Desa Nggesa seluas 1 Ha. Bu Tata juga mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa pangan tidak selamanya identik dengan beras. Ternyata tangggapan masyarakat cukup antusias, walaupun hasilnya belum maksimal. Tahun 2010 yang lalu ia bahkan mendapat penghargaan dari Gubernur NTT pada acara Hari Pangan Sedunia di Manggarai Barat.

Selama ini, urusan produksi ditangani oleh Ibu Tata bersama keluarganya baik di kebun sendiri maupun di demplot-demplot petani. Semua benih disiapkan Ibu Tata di kebun Pajinian Adonara Barat. Biaya pengolahan lahan, perawatan tanaman dan pasca panen ditanggung oleh poktan-poktan terkait. Bu Tata sendiri mempunyai target tahun 2012 berpikir tentang pasar. Ia bermimpi ada pemasaran bersama sorgum sedaratan Flores dan investasi untuk mendirikan pabrik tepung sorgum.

“Semua kerja keras dan keberhasilan ini berkat dukungan keluarga terutama suami Jeremias D Letor dan anak-anak. Mereka juga mendukung gerakan cinta pangan lokal sedaratan Flores. Saya bahkan bebas bertanam pangan apa saja di ladang dan menggunakan pupuk organik,” ungkapnya. Si bungsu Sisilia bahkan menemani mamanya di kebun karena kakak-kakaknya yang lain ada di  luar desa. Yang sulung si Randy kuliah pertanian di Unflor, Brian lagi menjalankan pertukaran pelajar tingkat SMU di Australia, dan si Ipi bersekolah di Larantuka.

Ibu Tata banyak mendapatkan pujian dan usul saran dari LSM dan organisasi lain. Walaupun belum ada dukungan materiil, Ibu Tata menganggap apresiasi yang dia terima sebagai motivasi untuk mewujudkan mimpinya. Satu mimpinya yang belum terwujud yakni ingin belajar di Maros-Sulawesi Selatan atau Philipina. Karena dia pernah baca bahwa di tempat-tempat ini ada pengembangan sorgum juga. Sementara ia  sudah sering menanyakan kepada orang-orang yang mengaku ahli pertanian di Flores tentang 6 jenis sorgum yang dibudidayakannya. “Mereka juga sama bingungnya seperti saya.  Malah mereka  bertanya,  sorgumnya didapat dari mana? Boleh minta benihnya bu? Ini biji apa bu?” kisah ibu Tata penuh senyum.***(andry, silvy)
 




Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
Last Updated ( Thursday, 11 August 2011 23:37 )
 

Comments  

 
0 #3 Bukik 2012-01-24 09:57
Kisah luar biasa
Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit
Mantra sederhana yang menggetarkan!
Quote
 
 
0 #2 Alim 2011-12-22 02:36
Maria Loretha sudah membuktikan bahwa potensi itu ada di sana. Ada yang marah karena dia membuktikan "potensi" itu, namun banyak yang kagum.

Maju terus Putri Kalimantan Barat...

Salam nalat dan pemberdayaan..

Alim (Ruaitv Pontianak)
Quote
 
 
0 #1 christin 2011-12-13 13:30
sahabatku tercinta...saluutt tekad & semangatmu yg luar biasa terbukti sudah...selamat utk keberhasilanmu, sukses!!GBU
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini708
mod_vvisit_counterKemarin576
mod_vvisit_counterMinggu ini2357
mod_vvisit_counterMinggu lalu4302
mod_vvisit_counterBulan ini11843
mod_vvisit_counterBulan lalu15621
mod_vvisit_counterTotal Harian208500
We have: 1 guests, 1 bots online
IP Anda: 38.107.179.240
 , 
Today: Feb 22, 2012

Jejaring Sosial PIKUL

  • Facebook: perkumpulan.pikul
  • YouTube: pikulers
  • Twitter: pikulers