Home Inspirasi
Inspirasi
Noh Oematan: Berani Menanam Jagung di Musim Kemarau PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 17 January 2012 01:17

Ini semua rahasia Tuhan bagi saya...

Ketika mayoritas petani lahan kering di pulau Timor mengeluhkan produksi jagung yang rendah. Bahkan yang paling ekstrim adalah kisah tentang jagung yang gagal tumbuh di dua musim tanam terakhir, seorang petani dari Desa Bena dengan penuh senyum menyampaikan kisah sebaliknya.

Last Updated ( Tuesday, 17 January 2012 01:29 )
 
Orang 'Gila' Perintis PKBM Sonaf Marthin PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 16 September 2011 02:41

"Dulu saya berhenti dari PNS orang bilang saya gila karena semua orang rebut kursi PNS"

“Dulu saya berhenti dari PNS orang bilang saya gila karena semua orang rebut kursi PNS. Saya justru dengan enteng minta berhenti sebagai PNS tahun 1990 setelah 14 tahun mengabdi. Almahrum papa bahkan mendatangkan tim doa untuk melayani saya secara pribadi. Predikat orang gila kembali dilontarkan ketika saya berhenti sebagai dosen ekonomi di UNKRIS tahun 2008 dan pulang ke kampung. Saya dipandang sebelah mata ketika tanpa malu-malu memilih barang-barang bekas seperti pecahan-pecahan keramik, spanduk-spanduk bekas, sak semen, seng-seng bekas, pintu-pintu pagar besi untuk dibawa ke kampung,” cerita om Johny dengan mata berkaca-kaca. Bapak dua anak yang unik dan tangguh ini bernama lengkap Mesakh Johny Manoe. Om Johny (sapaan akrabnya) lahir di Kupang 27 Februari 1957.

Berbagai 'kegilaan' om Johny ini bukan tanpa sebab dan tujuan. Justru keputusan-keputusan tak lazim yang diambil, mengantarnya pada cita-cita mulia untuk memandirikan masyarakat pedesaan. Menurut om Johny, kemandirian itu dapat terwujud dengan memutuskan 'lingkaran setan' mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga keterbatasan ekonomi karena rendahnya produktivitas yang berakibat pada tidak terpenuhinya hak-hak dasar (terutama pendidikan dan kesehatan) yang menjadi modal peningkatan SDM.

Om Johny terispirasi dari almahrum Martinus Manoe (ayahnya) yang mengabdikan hidupnya sebagai guru di Tanini sejak tahun 1948. Sebagai anak guru, om Johny mengalami suka duka hidup di kampung ini. Tanini merupakan salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Takari dimana lebih dari 90% penduduknya bekerja sebagai petani. Sebagian besar anak usia sekolah hanya mengenyam pendidikan SD yang kebetulah ada di Tanini. Rupanya ingatan akan kehidupan di kampung yang sulit terjangkau pada musim hujan ini mendorongnya untuk berbuat sesuatu.

Ide untuk mendirikan SMP Plus yang kemudian diganti menjadi PKBM Sonaf Marthin bermula dari pengalaman personal om Johny. Kematian ayahnya pada tanggal 5 Oktober 2005 menjadi titik balik dalam hidupnya. “Kala itu beberapa delegasi masyarakat Taimaman-Tanini mendatangi keluarga kami dan meminta agar jasad almarhum dimakamkan di sana. Karena keluarga sudah memutuskan bapa dikuburkan di Kupang maka saya menerima kedatangan mereka sebagai tanda untuk kembali ke kampung dan berbuat sesuatu sebagai kenangan,” tutur om Johny. Awalnya keluarga sepakat untuk mendirikan monumen. “Begitu ketemu masyarakat, secara tiba-tiba saya bicara pendidikan tanpa berpikir apa akibatnya,” kenang om Johny.

Tekadnya sudah bulat untuk mencari jalan memberdayakan masyarakat lewat pendidikan. Sebagai orang yang akrab dengan lingkungan Tanini, om Johny mengetahui dengan baik situasinya. Menurutnya, masyarakat Tanini masih merupakan petani dan peternak subsistem. Mereka belum mengembangkan pertanian dan peternakan untuk skala yang lebih besar dan menjangkau pasar yang lebih luas. Berbagai program pemerintah seperti KUT, IDT, koperasi, PKH, dan program lainnya tidak membawa hasil signifikan. “Persoalannya terletak pada sumber daya manusia termasuk mentalitas masyarakat. Oleh karena itu butuh waktu dan kesabaran,” katanya.

Strategi yang dilakukan untuk meningkatkan SDM dan mengubah mentalitas masyarakat adalah lewat pendidikan. Sebagian besar masyarakat hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar. Mereka yang berhasil hingga ke perguruan tinggi lebih memilih bekerja di sektor formal dan tinggal di tempat lain. Oleh karena itu pendidikan non formal seperti yang dilakukan om Johny sangat tepat. Selain latar belakang masyarakat Tanini yang dikenalnya, om Johny juga mengungkapkan beberapa alasan membangun PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakt) Sonaf Marthin. Pertama, Undang-undang Sisdiknas (UU 20 tahun 2003) menempatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan di bidang pendidikan. Kedua, pendidikan non formal mampu menghasilkan out put dengan keterampilan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Ketiga, masyarakat yang hidup dari pertanian dan peternakan sudah memiliki pengetahuan dan kearifan lokal. Hanya butuh sedikit tambahan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan peternakan mereka.

Bermodalkan tekad om Jhoni mulai mewujudkan kata-kata dan impiannya. “Awalnya saya menghimpun keluarga dan sahabat kenalan untuk membicarakan ide itu dan mengumpulkan perpuluhan mereka,” kisahnya. Tanggal 7 Juli 2006 dikirimlah surat kepada Kepala Desa Tanini untuk menyampaikan rencana yang telah disepakati keluarga. Seminggu kemudian utusan keluarga ke Taemaman di Tanini untuk bertemu kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat. Sambutan baik datang dari semua masyarakat setelah tiga kali dilakukan pertemuan di kantor desa, gereja Jemaat GMIT Elim TaEmaman, dan di rumah pribadi Kepala Desa Tanini. Keinginan masyarakat ini makin diperkuat dengan informasi lisan yang dihimpun mengenai jumlah anak putus sekolah di tingkat SLTP yang mencapai 179 orang. Akhirnya disepakati berdirinya SMP PLUS Sonaf Marthin pada tanggal 21 Agustus 2006. Maka dimulailah kegiatan belajar mengajar SMP PLUS Sonaf Marthin dengan jumlah siswa angkatan I 2006/2007 sebanyak 17 orang. Walaupun tidak sebanding dengan jumlah anak putus sekolah namun ini merupakan langkah awal yang baik karena tahun ajaran berikutnya jumlah siswa meningkat menjadi 23 orang.

SMP baru ini mempunyai nilai plus karena siswa dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanian, dan peternakan. “Masyarakat mesti diubah orientasinya dari mengutamakan status sosial dan pekerjaan sebagai PNS menjadi masyarakat yang berorientasi wiraswasta,” tegas om Johny. Untuk mencapai tujuan ini maka pihak yayasan telah melakukan pendekatan kultural dengan tokoh-tokoh adat serta pemegang hak ulayat atas tanah. Tahun 2007 masyarakat menyerahkan sebidang tanah untuk digunakan sebagai kompleks sekolah yang di dalamnya terdapat gedung sekolah darurat, rumah guru darurat yang dilengkapi MCK, dan sarana olah raga berupa lapangan voli dan lapangan bulu tangkis serta lahan yang digunakan untuk wadah praktikum pertanian dan peternakan.

Berbagai keberhasilan saat ini tidak terlepas dari berbagai tantangan yang memacu semangat om Johny. Tantangan awal datang ketika SMP PLUS Sonaf Marthin selesai diresmikan tahun 2006. Pihak UPTD Dinas P dan K Kecamatan Takari melarang pihak SMP PLUS memanfaatkan gedung dan perabot SD GMIT No. 54 Taemaman. “Mereka mencoba memberikan laporan kepada DPR bahwa pak Johny melakukan kekacauan sistem pendidikan dan menakut-nakuti anak-anak agar tidak masuk SMP plus,” kisah om Johny dengan senyum getir. Situasi ini tidak menyurutkan semangat om Johny. Om Jhoni mengorganisir masyarakat dengan hati. Ia bahkan berjalan dari kampung ke kampung untuk mensosialisasikan apa yang dilakukannya. Kegembiraan justru diperoleh ketika banyak orang mendukung dan menyekolahkan anaknya di PKBM Sonaf Marthin.

Pada perayaan Paskah tahun 2007, ia mengundang Bapak Drs. IA Medah, sebagai Bupati Kupang dan Ibu Ruth Nina Kedang, SE sebagai anggota DPR RI Komisi IX yang menangani bidang pendidikan ke Tanini. Relasi dengan ibu Ruth ini tetap terjalin dan menjadi cikal bakal pergantian nama SMP PLUS menjadi PKBM Sonaf Marthin. Tanggal 25 April 2008, ibu Ruth mempertemukan pihak Yayasan Sonaf Marthin dengan Kasub Din PLS Propinsi NTT, Ir. Marthen Dira Thome. Om Johny menceritakan banyak hal tentang apa yang sedang dilakukannya di Tanini. Pak Martin kemudian menerbitkan Surat keputusan Izin Operasional melalui Sub Din PLS pada Dinas P dan K Kabupaten Kupang. Sejak itu, SMP PLUS Sonaf Marthin berubah nama menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sonaf Marthin. Sejak tahun 2008 PKBM ini dilirik pihak lain. ILO EAST untuk program life skill bekerja sama dengan dinas perindustrian mendatangkan instruktur untuk mengajarkan 21 jenis olahan pangan lokal selama 1 bulan. Selain itu ada Yayasan Nusa Bunga dan juga stimulan dari pemerintah, PLS provinsi NTT dan UPT PPNFI Dinas PPO Provinsi NTT. Untuk meningkatkan keterampilan peserta didik maka diadakan berbagai kursus perbengkelan dan otomotif, meubeler dan magang di Kupang selama 1,5 tahun bagi para peserta didik.

Semua siswa/i yang belajar di sini tidak dikenakan biaya atau GRATIS! “Mereka dijamin penuh mulai dari sabun, minyak tanah, garam, jagung, beras, pakaian bekas, pakaian baru, tanpa meminta sepeserpun dari orang tua. Banyak hal yang ditanggung oleh keluarga and yayasan,” tutur om Johny dengan bangga. Tokoh-tokoh adat memperbolehkan mereka mengolah lahan di dalam maupun di luar kompleks PKBM tergantung kemampuannya. Kini mereka memelihara sekitar 60 ekor babi dan 5 ekor sapi. Peluang ini membuat om Johny mengundang Geng Motor Imut mengajarkan pembuatan biogas. “Anak-anak sudah mulai memproduksi dalam skala kecil seperti sayur-sayur di demplot-demplot tempat mereka belajar. Ke depannya, usaha pertanian dan peternakan ini diharapkan mampu menopang kehidupan PKBM,” ungkap om Johny dengan mata berbinar.

Peserta didik Paket B (usia 13 - 19 tahun) diasramakan kecuali yang telah berkeluarga. Pola ini diharapkan membantu siswa/i melatih kemandirian dan berbagai teori serta praktek diserap dengan lebih intensif. Mereka menggunakan lopo-lopo darurat yang dibangun penyelenggara di area PKBM untuk proses belajar mengajar. Para tutor didatangkan dari kabupaten dan provinsi untuk mengajar mereka. Yayasan mempunyai mimpi untuk membangun juga sekolah lanjutan atas. “Pada aras sekolah menengah atas mereka akan dibekali dengan berbagai teori, antara lain: manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen keuangan usaha kecil, serta teori-teori penunjang lainnya yang berorientasi pasar,“ tandas om Johny. Pada level ini para sisiwa diharapkan sudah terarah pada agrobisnis dan pasca panen untuk menambah pendapatan riil.

Selain mendidik anak-anak, om Johny juga telah menghimpun 9 kelompok tani yang akan didukung dengan pendirian koperasi Sonaf Marthin yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan. “Ada yang bertanya kelompok tani untuk apa? Bahkan ketika saya mendatangkan petugas dari Dinas Pertanian, peserta yang mengikuti kegiatan ini ditertawakan oleh yang lain karena menggangap yang dibicarakan palingan cuma tanam padi dan jagung yang biasa dilakukan,” ungkap om Johny menirukan apa yang dikatakan masyarakat. Tantangan ini bukan hanya sampai di sini. Ada juga orang berpendidikan yang menyebarkan isu bahwa PKBM merupakan lembaga dengan ijazah ilegal.

Di tengah berbagai tantangan ini, om Johny menemukan kekuatan dan dukungan dari berbagai pihak terutama istrinya M.H. Manoe Mandala. Setelah 5 tahun berjuang, baru pada ulang tahun Sonaf Marthin ke-5 ini sang istri berkunjung ke Tanini. “Dia hanya ungkapkan satu kata 'mulia.' Ternyata, di saat in jure time dalam hidup ini, saya bisa membuktikan makna hidup pada sesama,” ucap om Johny dengan senyum.

Om Johny akan terus berjuang menggapai mimpinya. “Saya ingin suatu saat masyarakat membuat statement 'tolak raskin' dengan peningkatan produksi di bidang pertanian dan peternakan. Peningkatan pendapatan masyarakat akan mengurangi ketergantungan mereka pada bantuan. Tempat ini akan menjadi kantong produksi,” ungkapnya berapi-api. ***(andry ratumakin)

Last Updated ( Tuesday, 18 October 2011 15:31 )
 
“Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit” | Profil Maria Loretha, Penggagas Sorgum Waiotan Farm PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 09 August 2011 02:52

Orang yang belum mengenalnya tidak akan percaya bahwa ibu empat anak ini adalah seorang petani sukses.

Ibu berkulit putih ini bernama Maria Loretha. Bu Tata, panggilan akrabnya, lahir di Ketapang, Kalimantan Barat 28 Mei 1970, keturunan Dayak Kanayatan dan Otdanum. Sejak kecil hingga menyelesaikan kuliah, Bu Tata tinggal di kota. Ia memulai SD Usaba di Ketapang, SMP Mater Alma di Ambarawa-Jateng, SMA St. Fransiskus I Jakarta hingga S1 Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang. Setelah menamatkan kuliahnya, Bu Tata sempat bekerja di sebuah broadcast sebagai announcer.

Krisis multidimensi Indonesia tahun 1999 turut berdampak pada kehidupan ekonomi keluarganya. Keputusan harus dibuat ketika sang suami menawarkan untuk tinggal di desa terpencil Pajinian-Adonara Barat, Flores Timur. Bu Tata sempat bertanya kepada sang suami, apa jaminan kembali ke Flores. “Suamiku mengatakan bahwa ia mempunyai kebun yang luasnya 6 ha di pinggir pantai. Di sana tempatnya sangat indah,” kenang Bu Tata. Situasi ini memberi harapan baginya walaupun awalnya Bu Tata agak canggung karena membayangkan Flores merupakan daerah kering dan gersang.

Tahun 2000, dari Malang, Jawa Timur, mereka pindah ke Kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur. Bu Tata yang enerjik melibatkan diri dalam berbagai kegiatan. Tahun 2000-2001 ia aktif dalam kelompok menganyam tali gebang dan kerajinan dari bambu serta pengolahan pangan lokal  di bawah binaan Disperindag Kabupaten Flores Timur. Akan tetapi, kelompok ini bubar sejak Ibu Tata memutuskan untuk pindah ke Adonara Barat tahun 2002. “Kami pindah karena kami mempunyai lahan/ kebun seluas 6 Ha. 3 Ha untuk menanam jambu mete sedangkan 3 Ha untuk tanaman pangan. Keputusan ini diambil karena realistis saja. Anak-anak semakin besar dan kami mau kerja apa di Larantuka?” ungkapnya. Di Desa Pajinian, Bu Tata membentuk kelompok untuk mengolah pangan lokal dan tentu saja tetap aktif dalam berbagai kegiatan di desa, kecamatan, kabupaten dan gereja.

Ketertarikan membudidayakan sorgum bermula dari pengalaman kecilnya di desa Pajinian akhir tahun 2007. Ia mengenal sorgum (wata blolon=sebutan dalam bahasa Lamaholot) dari Ibu Maria Helan,  tetangga di kebun yang mendapat sorgum dari kakaknya di desa Hurung. “Dia memberiku sepiring sorgum kukus. Ternyata rasanya enak, sedap dan gurih,” kenang Ibu Tata. Sejak saat itu ia mulai berpikir untuk mengembangkan tanaman lokal, terutama sorgum. Ia bahkan menjatuhkan pilihan  untuk menjalani hidup sebagai petani di tengah berbagai tawaran akan jenis pekerjaan lain. “Sungguh tidak mudah menghadapi tantangan ini di tengah banyak pertanyaan, mengapa tidak melamar jadi guru? Kenapa tidak menjadi PNS? kenapa mau bekerja kotor? Kenapa tidak tinggal di kota yang penuh fasilitas? Kenapa dan kenapa?” kisah Ibu Tata dengan senyum.

Tekadnya sudah bulat dan ia mulai banyak bertanya pada teman-teman sesama petani bagaimana memilih benih jagung, jenis padi, wijen, jelai dan tentunya sorgum yang baik. Ia juga mencari tahu tanaman lokal apa saja yang pernah ada di desa dan bagaimana cara menanam serta merawatnya. Informasi pengolahan pangan lokal dan kandungan gizi dicari juga dari buku-buku pegolahan pangan lokal, internet, majalah Sinar Tani, dan teman-teman penyuluh di badan Ketahanan Pangan Flores Timur. “Saya belajar bertani dari pengalaman langsung sebagai pelaku utama. Saya tinggal di kebun bukan di desa berbaur dengan masyarakat. Oleh karena itu saya memang fokus terhadap pertanian,” tandasnya.

Awal tahun 2008, Ibu Tata mulai mengembangkan jagung Solor dan jewawut walaupun hanya sebagai tanaman sela. Hasilnya cukup untuk makan serta benih berikutnya. Akhirnya Bu Tata menemukan gagasan untuk melestarikan dan mengembangkan tanaman pangan lokal langka. Bukan hanya jagung Solor dan jewawut tetapi juga sorgum, jagung lokal, jelai, wijen atau lenga, dan padi hitam. Bu Tata  menamakan proyek ini “Sorgum Waiotan Farm”, karena lokasi ladang kering mereka di kampung Waiotan, Desa Pajinian.

Mulailah ia berburu benih. Ternyata tidak mudah mendapatkan benih ini. Ia mendapatkan sorgum coklat dari Bernad Soge di desa Pajinian, sorgum dan jewawut dari Agustinus di desa Nabo Kie-Ilebura, sorgum merah dan sorgum hitam dari Waisete-Maumere, jelai dari Pater Piet Nong, SVD di Hokeng, serta biji wijen dari Ibu Frederika di Lohayong-Larantuka. Akan tetapi Ibu Tata memilih lebih fokus mengembangkan sorgum di lahannya. “Motivasi saya sederhana saja. Potensi lahan kering (80%) kita di Flores dan Lembata lebih besar dibandingkan lahan basah. Sorgum sangat potensial ditanam di lahan kering tidur di daratan Flores dan Lembata. Asal tidak ditanam di ketinggian lebih dari 500 m dari permukaan laut. Sorgum dapat tumbuh baik di tanah berpasir dan berbatu. Saya juga lebih memilih tanaman asli karena : 1) melestarikan tanaman ini yang mulai sulit dan langka, 2) tanaman lokal (sorgum, jagung pulut, padi hitam, jelai, wijen, jewawut) lebih toleran dengan kondisi alam kami yang minim curah hujan, 3) kurang disukai hama OPT karena baunya yang khas, “ demikian tutur Bu Tata.

Mengapa Sorgum? Karena tanaman sorgum dapat dibudidayakan dilahan yang kurang subur, air yang terbatas, bahkan di tanah berpasir pun sorgum dapat tumbuh dengan baik dan dapat beradaptasi pada tanah yang tergerus air. Selain itu perawatannya mudah dan tidak disukai hama tanaman. Menurutnya sorgum merupakan tumbuhan ajaib dan dapat menjadi alternatif pangan yang sustainable. Bahkan kandungan gizi sorgum jauh lebih tinggi dari beras. Kandungan besinya 5,5 kali lipat dari beras. Vitamin B1 4,7 kali lipat beras dan kalsium 4,6 kali lipat beras. “Tumbuhan ini juga tidak terlalu rewel. Kita bisa menanam di luar musim. Saya melakukan uji coba menanam sorgum tiga kali setahun karena sorgum bisa tumbuh baik dengan sedikit air dan bertahan di musim kemarau. Hanya satu bulan pertama merawat sorgum selanjutnya biarlah alam yang memeliharanya,” tutur Bu Tata. Hasil sorgum ini juga dapat diolah menjadi pakan ternak baik unggas, sapi dan kuda. Bu Tata sudah mencoba pada ternak ayam mereka.  Sorgum dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Mulai dari kue-kue basah sampai bubur yang lezat. Kue sorgum, nasi goreng sorgum, sorgum lemang (sorgum dicampur santan kelapa kemudian dimasak dalam bambu), dan bir sorgum sudah mulai dikembangkan.

Ibu Tata dan suami mulai merencanakan membuka dan mengolah lahan, mengusahakan pupuk organik dan tenaga kerja. Mereka membuat demplot Sorgum Waiotar Farm yang ditanam di luar musim pada bulan Juli 2010. “Disaat gencarnya diversifikasi pangan, anomali cuaca, serangan OPT, dan pemanfaatan lahan tidur kering, saya berani katakan SORGUM BERGIZI, SORGUM BERDUIT,” tegasnya. Ini menjadi mantra kebun atau demplot pengembangan sorgum. Bayangkan, di lahan  seperempat hektar ternyata mampu menghasilkan ±1.300 kg sorgum. Harganya Rp.5,000/kg. “Kalau kita tanam sorgum setahun dua kali saja di lahan minimal 1 Ha maka akan menghasilkan biji sorgum ± 4 ton/Ha dengan kebutuhan benih ± 8 kg/Ha. Kalikan saja dengan Rp.5000/Kg, berapa uang yang bisa  didapat?” tambah ibu Tata dengan mata berbinar.

Dampak nyata usaha pertanian lahan kering mulai dirasakan dua tahun terakhir ini.  “Gara-gara sorgum ini, nama saya mulai dikenal di kalangan kelompok-kelompok tani,” ceritanya sambil tersenyum. Undangan pertama untuk Ibu Tata, datang dari Ibu Siti ketua APPEL (Asosiasi Petani Padi Lembor) di Manggarai Barat. Ada 4 demplot yang dibuka di sana yaitu di Desa Surunumbeng seluas 2 Ha, Desa Palis 1 Ha, Desa Tangge 0,5 Ha, dan Desa Siru 0,25 Ha. Kemudian undangan kedua datang dari ketua Gapoktan Zainal Abidin di Desa Onderea Barat Ende. Ada 3 kecamatan yang dikembangkan di sana, yakni: Kec. Nangapenda di Desa Ondorea Barat seluas 1,5 Ha, Kec. Wewaria di Desa Mukusaki seluas 1 Ha, dan Kec. Detukeli di Desa Nggesa seluas 1 Ha. Bu Tata juga mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa pangan tidak selamanya identik dengan beras. Ternyata tangggapan masyarakat cukup antusias, walaupun hasilnya belum maksimal. Tahun 2010 yang lalu ia bahkan mendapat penghargaan dari Gubernur NTT pada acara Hari Pangan Sedunia di Manggarai Barat.

Selama ini, urusan produksi ditangani oleh Ibu Tata bersama keluarganya baik di kebun sendiri maupun di demplot-demplot petani. Semua benih disiapkan Ibu Tata di kebun Pajinian Adonara Barat. Biaya pengolahan lahan, perawatan tanaman dan pasca panen ditanggung oleh poktan-poktan terkait. Bu Tata sendiri mempunyai target tahun 2012 berpikir tentang pasar. Ia bermimpi ada pemasaran bersama sorgum sedaratan Flores dan investasi untuk mendirikan pabrik tepung sorgum.

“Semua kerja keras dan keberhasilan ini berkat dukungan keluarga terutama suami Jeremias D Letor dan anak-anak. Mereka juga mendukung gerakan cinta pangan lokal sedaratan Flores. Saya bahkan bebas bertanam pangan apa saja di ladang dan menggunakan pupuk organik,” ungkapnya. Si bungsu Sisilia bahkan menemani mamanya di kebun karena kakak-kakaknya yang lain ada di  luar desa. Yang sulung si Randy kuliah pertanian di Unflor, Brian lagi menjalankan pertukaran pelajar tingkat SMU di Australia, dan si Ipi bersekolah di Larantuka.

Ibu Tata banyak mendapatkan pujian dan usul saran dari LSM dan organisasi lain. Walaupun belum ada dukungan materiil, Ibu Tata menganggap apresiasi yang dia terima sebagai motivasi untuk mewujudkan mimpinya. Satu mimpinya yang belum terwujud yakni ingin belajar di Maros-Sulawesi Selatan atau Philipina. Karena dia pernah baca bahwa di tempat-tempat ini ada pengembangan sorgum juga. Sementara ia  sudah sering menanyakan kepada orang-orang yang mengaku ahli pertanian di Flores tentang 6 jenis sorgum yang dibudidayakannya. “Mereka juga sama bingungnya seperti saya.  Malah mereka  bertanya,  sorgumnya didapat dari mana? Boleh minta benihnya bu? Ini biji apa bu?” kisah ibu Tata penuh senyum.***(andry, silvy)
 


Last Updated ( Thursday, 11 August 2011 23:37 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini708
mod_vvisit_counterKemarin576
mod_vvisit_counterMinggu ini2357
mod_vvisit_counterMinggu lalu4302
mod_vvisit_counterBulan ini11843
mod_vvisit_counterBulan lalu15621
mod_vvisit_counterTotal Harian208500
We have: 2 guests, 3 bots online
IP Anda: 38.107.179.236
 , 
Today: Feb 22, 2012

Jejaring Sosial PIKUL

  • Facebook: perkumpulan.pikul
  • YouTube: pikulers
  • Twitter: pikulers