| Menulis Itu Menyenangkan! |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Thursday, 19 January 2012 00:32 |
(dari Pelatihan Menulis dan Dokumentasi Foto untuk Aktor dan Asosiat, PIKUL – LBKB, 21 – 24 November 2011)
![]() “Beta sonde sangka, beta ternyata bisa menulis!” ungkap Ibu Ita Y. Adu dengan mata berbinar-binar sambil menatap tulisannya yang sudah selesai. Ibu Ita Y. Adu salah satu peserta pelatihan Menulis dan Dokumentasi Foto Lingkar Belajar Komunitas Bervisi (LBKB) PIKUL. Dia menatap hasil tulisannya yang lengkap didukung dengan tiga buah foto hasil bidikan dia sendiri dengan puas. “Aduh,.. sebenarnya lebih bagus kalo beta ambil dari sebelah sini e... Tapi sonde apa-apa, tetap bagus kok” sambil tersenyum dan tangan Ibu Ita menunjuk bagian kanan dari gambar foto yang ditempelkan pada tulisannya. Tulisan ibu Ita diberi judul: Perhatianmu adalah Rinduanku, sebuah tulisan bergaya feature tentang seorang ibu penjual garam di Pasar Kasih, Naikoten, Kupang. “Beta pilih tulis tentang mama tua, karena beta juga sering masak garam. Jadi beta tahu susahnya.” jelas Ibu Ita. Lain lagi tulisan Fransisco Belo. Sisco, - nama panggilan Fransisco – menulis tentang sampah di Pasar Naikoten. Tulisannya diberi judul: Udaraku Tak Sedap Lagi. Tulisan pendek ini bercerita tentang sampah di pasar Kasih, Naikoten yang dibuang sembarangan dan menyebabkan bau yang tak sedap. Awalnya Sisco sempat sedih, karena dari tujuh foto pendukung yang diambilnya, hanya satu saja yang fokus, namun setelah berusaha lagi, semua foto yang dihasilkan bisa fokus. “Saya pilih tiga foto ini saja. Karena tiga foto ini yang pas dengan tulisan saya” jelas Sisco dengan aksen bahasa indonesia bercampur bahasa Tetun – Timor Leste. Lelaki 19 tahun ini memang anak Timor Timur asli. Dia sekeluarga pindah ke Timor Barat ketika pengungsian 1999 lalu. Ibu Ita Adu dan Fransisco, adalah dua dari 18 orang peserta pelatihan menulis dan dokumentasi foto untuk aktor dan asosiat Lingkar Belajar Komunitas Bervisi (LBKB) PIKUL untuk tahap pertama, yang dilaksanakan pada 21 -24 November 2011, di Palm Beach Resort, Kelapa Lima, Kupang. Pesertanya datang dari individu dan wakil organisasi peserta LBKB – PIKUL, antara lain datang dari KoAR NTT, SRMI, Geng Motor ImuT dan OAT TTS. Untuk tahap pertama dibatasi dari daerah sekitar Kupang dan Kabupaten TTS. “Tempatnya bagus. Tenang. Jadi mudah dapat inspirasi. Tapi juga buat kita gampang mengantuk” jelas Alberto Maia (Abe) tentang lokasi pelatihan dengan tersenyum, sambil duduk-duduk menikmati hembusan angin laut menerpa tubuhnya. Abe adalah peserta dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) cabang Kupang. Di akhir pelatihan Abe menulis tentang pengalamannya memotret seorang tua yang kurang waras, dengan gaya tulis yang kental dengan sudut manusia. Tulisannya diberi judul: Menunggu Momen. Ending tulisannya pun penuh makna: Pak Tua, semoga kau beruntung hari ini. “Wah beta senang sekali. Ini pertama kali buat beta, ada pelatihan dan semua peserta mau mengerjakan tugas mereka sampai tuntas. Beta juga sonde sangka, tulisan-tulisan mereka (peserta) bagus-bagus!. Beta puas” Volkes Dadi Lado, salah satu fasilitator menyampaikan perasaannya pada salah satu kesempatan rehat sore pada saat pelatihan. Pelatihan ini memang diisi dengan banyak berlatih menulis dan juga praktek mencari berita, dokumentasi foto pendukung dan menulis berita. Praktek mencari materi berita dan foto pendukung dilakukan pada tanggal 24 November, di Pasar Kasih, Naikoten Kupang. “Mereka bisa. Semua orang sebenarnya bisa menulis. Yang penting terus dilatih dan jangan berhenti.” tegas Yemris Fointuna, salah satu fasilitator lain untuk materi menulis. Pelatihan ini difasilitasi oleh Volkes Dadi Lado, penulis freelance dan Yemris Fointuna, seorang wartawan sekaligus ketua Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) cabang Kota Kupang untuk materi menulis dan Noya Letuna, Dosen Komunikasi, FISIP Universitas Nusa Cendana, Kupang sekaligus salah satu Fotografer perempuan pada komunitas fotografi FOKU's (Fotografer Kupang dan sekitarnya) untuk materi Dokumentasi Foto. Pelatihan ini memang difokuskan untuk meningkatkan minat menulis para aktor perubahan yang tergabung dalam LBKB, agar nantinya dapat mulai mendokumentasikan dan menyebarkan kisah-kisah inspiratif mereka. “Selama ini beta sonde berani kasi baca tulisan beta ke orang lain karena takut salah. Tapi seteleah tau dari fasilitator kalau yang terutama dari menulis itu agar mencurahkan isi hati kita, bukan menyenangkan orang lain, beta sekarang berani. Ternyata menulis itu menyenangkan!” aku Yus Leonard Pah, wakil dari Komunitas Akar Rumput (KoAR) NTT. Di akhir pelatihan setiap peserta diminta untuk membuat sebuah tulisan yang dilengkapi dengan foto-foto pendukung. Tulisan-tulisan yang dihasilkan pun beragam.*** (dw) |
| Last Updated ( Thursday, 19 January 2012 11:32 ) |

























