|
Laporan Kegiatan Diskusi Regional FORUM Kawasan Timur Indonesia (KTI), 17 – 20 Oktober 2011 di The Santosa Villas n Resort *** Bahagia dan terharu, saya petani kecil di kepulauan boleh mendapat kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman. *** Saya tak menyangka, bisa berbagi pengalaman berkaitan dengan pengembangan tanaman pangan lokal, pertanian skala kecil di Adonara dan Flores pada umumnya, khusus pada pertanian lahan kering pada Diskusi Regional Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI), Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim untuk Pulau-pulau Kecil di Kawasan Timur Indonesia, 17 – 20 Oktober 2011 di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Saya di kontak pertama kali oleh bung Akram dari Yayasan BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) pada 4 Oktober 2011. Antara rasa tidak percaya, saya mencoba kontak Andry dari PIKUL dan menyampaikan tentang undangan ini. Dengan tenang andry meyakinkan saya bahwa PIKUL yang merekomendasi dan meminta saya untuk mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh BaKTI. Hal pertama yang saya lakukan adalah mempersiapkan materi dengan tema “SORGUM BERGIZI, SORGUM BERDUIT: Sebuahh Kisah dari Adonara’. Presentasi ini akan saya sampaikan dalam sesi Development Marketplace. Ada 3 hal yang menjadi dasar dalam panduan pemaparan materi yaitu, pertama: Apa dampak bagi masyarakat penerima gagasan?, kedua: Metode apa yang digunakan dalam melaksanakan gagasan dan bagaimana peran masyarakat, lembaga sosial, serta pemerintah? Ketiga: Bagaimana kemungkinan replikasinya di daerah lain. Hal kedua adalah saya mulai mempersiapkan tujuh jenis benih wata blolong (sorgum) dan dua jenis benih jelai/dela/jali, jewawut, wijen, dan padi hitam. Tapi terakhir saya memutuskan hanya membawa wata blolong dan dela saja. Saya bawa lengkap dengan biji yang masih melekat di tangkainya maupun biji yang sudah dipipil dan dikemas rapi dalam plastik transparan. Bahkan saya membawa setangkai sorgum biji kelopak merah yang belum tua sebagai contoh; bahwa di tengah cuaca ekstrim kering di Adonara, sorgum tetap dapat tumbuh baik dengan air yang sangat minim! Untuk persiapan materi saya di bantu Sevrilus, S.Pt.MSi dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Flores Timur serta Tonny Bengu, SP; anggota DPRD Provinsi NTT. Untuk masalah pertanian dan kepenyuluhan setahun terakhir ini saya sering share dengan mereka. Minggu, 16 Oktober saya pamit pada suami dan si bungsu, berangkat menuju Maumere. Dengan uang saku seadanya saya kuatkan hati menuju Mataram, Nusa Tenggara Barat. Semua tiket perjalanan melalui udara dan akomodasi di tanggung panitia. Saya tiba di Bandara Internasional Lombok, Mataram hari Senin 17 Oktober 2011 jam 13.OO wita. Panitia BaKTI sudah menunggu di ruang penjemputan. Di Bandara saya bartemu pertama kali dengan teman sekamar saya, Murni, seorang Guru dari Sulawesi Selatan. Tiba di Hotel Santosa kami langsung check in dan menyerahkan tiket dan boarding pass dari daerah asal kepada panitia pelaksana. Saya dan Murni mendapat kamar yang sangat istimewa untuk ukuran petani. Kaget bukan main waktu kami tahu bahwa kamar yang kami tempati bertarif US$216/malam. Tarif menginap semalam hotel ini cukup membiayai registrasi anak saya untuk kuliah enam bulan! Setelah istirahat satu jam di kamar, saya dan Murni wajib menghadap Panitia BaKTI untuk melaporkan persiapan presentasi. Mau putus nafas saya, ketika usb flash disc saya dibuka dan materi saya kosong. Refleks saya menangis di depan crew BaKTI (Luna, Akram, Miko, Steven, dll). Saya menangis, karena ini pertaruhan besar saya untuk menunjukkan pada dunia apa yang sudah saya buat selama ini. Dengan gayanya yang kocak Luna yang berdarah papua itu menenangkan saya. ”Tenang Mama. Kami punya ahlinya, tim INSPIRIT!” ujar Luna sambil tersenyum. Saya dan Murni diantar Miko pindah ke ruang INSPIRIT. Yang saya perhatikan, di dalam ruangan itu penuh dengan kardus-kardus berisi peralatan tulis dan pernak-pernik lain, seperti waktu saya ikut Lingkar Belajar Komunitas Bervisi (LBKB) II di Adonara Timur yang difasilitasi PIKUL. Lalu kami berdua duduk berhadapan dengan 3 orang berbadan subur. Mereka senyum-senyum melihat saya yang masih panik dan berurai air mata. Belakangan baru saya tahu bahwa Mas Dani Munggoro itu orang terkenal. Dia penggagas INSPIRIT. Mas Dani dan Mbak Budsi mengatakan bahwa materi saya akan dibuat semenarik mungkin, semua akan beres. Saya lega. ***
Pembukaan Diskusi Regional Forum KTI, yang membawa isu Perubahan Iklim dan Adaptasinya ini berlangsung di tepi pantai Hotel Santosa pukul 16.30. Setelah mengikuti pembukaan, kami makan malam di Restorant Nusantara Hotel Santosa, dirangkaikan dengan pemutaran film “There Once Was An Island" sebuah kisah yang menarik tentang kesadaran manusia akan dampak dari segala fenomena alam serta keputusan yang sulit untuk keluar dari habitat aslinya. Pertemuan Diskusi Regional Forum KTI dimulai hari Selasa 18 Oktober 2011 tepat jam 08.00 wita. Diawali dengan Sambutan Wakil dari Kementrian Perindustrian yang juga Pembina Yayasan BaKTI, Bapak Alex Retrubuin. Dilanjutkan dengan talk show yang dipandu mbak Prita dari Metro TV menampilkan pembicara dari DPN, Kementrian Kelautan, dan Kementrian PDT. Saya dan Murni mendapat jadwal dan ruangan yang sama waktu presentasi. Tapi sebelumnya Steven dari BaKTI sempat minta saya menyajikan dalam bentuk drama singkat. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya saya minta teman-teman semeja untuk mendukung niat saya. Gayung bersambut, teman dari NGO SIDA, NGO Australia, LSM Lokal dan staf Bappeda Rote Ndao bersedia menemani aksi nanti di atas panggung! Murni, teman sekamar saya membawakan presentasi tentang kepedulian Murni akan nasib pesisir negeri kepulauan. Enam tahun Murni menghijaukan pesisir dengan Mangrove! Begitu banyak tantangan yang harus Murni hadapi. Guru honor ini bukan hanya menerima cemburu sosial dari lingkungan tempat tinggalnya saja tapi juga sempat bergesekkan dengan yayasan lokal di tempatnya. Bahkan sempat diadu dengan pimpinan sekolahnya sendiri. Murni yang Lulusan Sarjana Tehnik Elektro Universitas Negri Makassar ini terus menanam mangrove di sela-sela waktu mengajarnya di Sekolah Dasar. Murni tak peduli apa kata orang. Buah pahit serta rasa lelahnya selama ini ternyata mendapat tempat dihati orang-orang yang menghargai gagasan yang muncul dari hati yang tulus. Nah, tibalah giliran saya; MARIA LORETHA membawakan sesi Development Marketplace “SORGUM BERGIZI, SORGUM BERDUIT”. Saya membuka presentasi dengan mendongeng asal-usul benih versi Adonara Barat. Bahwa sorgum yang bahasa Lamaholotnya adalah Wata Blolong adalah tanaman asli yang sengaja dilupakan dan ditinggalkan karena program regulasi hijau; beras-nisasi pada masa pemerintahan orde baru. Antusias peserta semakin semarak dengan tujuh saudara Peni Masandai (dewi padi) yang beraneka-ragam kulit dan rambut menari gembira dengan irama dangdut di atas panggung ketika sesudah hari ke-tujuh, mereka mendapatkan beragam jenis tanaman pangan tumbuh di ladang mereka. Cerita tentang mitos Peni Masandai; seorang dewi yang mengorbankan hidupnya menjadi benih sorgum yang tumbuh di kebun milik tujuh saudara laki-lakinya menjadi drama yang diperankan saya dan teman-teman mengisi presentasi saya. Di daerah Flores Timur, mitos Peni Masandai ini dipercaya menjadi asal-usul Sorgum. Saya juga menyampaikan tentang tantangan yang harus dihadapi, mulai dari kesulitan akses ke benih, sikap skeptis petani yang cenderung mau lihat dulu hasilnya, dana yang seadanya, dinas terkait yang umumnya masih tutup mata dan tidak sedikit yang menganggap Saya itu MPO! (Mencari Perhatian Orang) dan kurang kerjaan ! Segala aplaus pujian juga saran berhamburan diterima Murni dan Saya. Boleh dikata kami berdua jadi bintang. Sayapun tidak sangka bertemu Pimpinan LSM Oxfam GB kantor Makassar, Aloysius Suratin, yang ternyata saudara sekampung di Bengkayang Kalbar. Dia terharu dan sedih kenapa waktu masih bertugas di NTT tidak bertemu saya, kebetulan desa saya Pajinian mendapat program juga dari Oxfam. Saya bilang tidak usah khawatir karena ada orang-orang PIKUL yang sangat peduli dengan gerakkan saya. "PIKUL sudah bukakan jalan untuk saya, hingga kita bisa bertemu dalam forum yang megah ini" jelas saya. Setelah selesai presentasi, saya di hubungi Miko dari BaKTI yang menyampaikan bahwa saya akan di wawancarai media BaKTI dan KOMPAS. Mbak Budsi dari INSPIRIT juga mengingatkan saya untuk tidak abaikan peran wartawan. Saya terus menerus di ingatkan oleh crew BaKTI untuk menerima wawancara dengan wartawan. Wartawan Kompas yang mewawancarai saya adalah SAMUEL dan KHAERUL. Mereka bertanya sangat terperinci, pelan-pelan, dan teliti. Mereka Tanya nama orangtua dan pekerjaan orangtua. Saya sempat menolak, tapi mereka sampaikan ”Indonesia ini masih melihat orang dari asal-usulnya, ibu” lalu saya jawab “Itu Hakim yang mengadili PM Timor Leste” maka terperanjatlah mereka berdua. Mereka juga tanya ukuran rumah tinggal, Saya jawab “Cuma 5m x 8m saja” mereka berkomentar;”Kok, kecil ya”. "Lha ialah Mas. Lha wong ini rumahnya petani, bukan pengusaha!" saya membalas dengan meniru logat orang jawa. Mereka tanya lagi luas kebun, dll, dsb. Pada penutupan pertemuan tentang Perubahan Iklim dan Adaptasinya serta penampilan 9 penggagas ini disimpulkan ada empat topik aktual yang akan menjadi acuan bagi masyarakat sipil dan pemangku kebijakan yaitu; Perlunya penguatan bagi masyarakat kepulauan yang terkena dampak dari perubahan iklim, pelestarian lingkungan pesisir melalui penghijauan mangrove dan karang laut, alternatif pangan yang beragam dalam mengatasi gagal tanam gagal panen, energi alternatif yang terjangkau masyarakat kepulauan, dan yang tidak mengabaikan kearifan lokal. Saya, Murni, Adi, Agustinus, dan lima penggagas lainnya sungguh merasakan bagaimana luarbiasanya PENGHARGAAN yang diberikan pada kami. Kami sempat berkecil hati dengan gelar ilmu di belakang nama kami. Tidak sangka, kami semua yang bergelar sarjana ini ternyata masih diberi kesempatan untuk membuktikan bakti kami di tempat-tempat yang terpencil, di kepulauan di kawasan timur Indonesia. Terimakasih Tuhan, terimakasih PIKUL, dan terimakasih Yayasan BaKTI. Flotim, 24 Oktober 2011 Maria Loretha BACA JUGA: - Profil Maria Loretha: Sorgum Bergizi, Sorgum Berduit |
Comments
RSS feed for comments to this post