| Embrio Industri Kelapa Rumahan, Terganjal Ekspor Kelapa Bulat dan Kopra |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Friday, 20 May 2011 06:37 |
Pagi-pagi, di rumah belajar Pikul, seperti biasa rekan yang bertugas berkomunikasi dengan anggota-anggota lingkar belajar komunitas bervisi mendapatkan pesan teks yang cukup mengejutkan.Pesan ini dari Ibu Asmiati, salah seorang perempuan tangguh di P. Adonara yang bercita-cita mengembangkan industri rumahan kelapa terpadu di pulau tersebut. Katanya, produksi minyak dan makanan dari kelapa terpaksa dihentikan. Harga kopra naik sedemikian pesat. Pengrajin tak mampu lagi membeli kelapa bulat. Saat ini hanya produksi briket arang saja yang masih berjalan.
Ibu As, bersama sejumlah perempuan pengolah minyak kelapa, selama 4 tahun terakhir, mengembangkan produksi minyak kelapa rumahan yang dengan sentuhan sedikit teknologi, memiliki kualitas tinggi. Artinya, minyak kelapa produksi kelompok-kelompok di Adonara, yang diberi identitas minyak goreng TaTa (Tapo Tadon, atau Pulau Kelapa), jauh lebih awet dibandingkan minyak kelapa yang dikerjakan pengrajin lain. Keawetan minyak kelapa Tata bisa mencapai 3 bulan, dibanding minyak kelapa biasa yang 1 minggu sudah tengik. Sentuhan teknologi sederhana pada cara memasak, menyaring, dan pengemasan, berhasil mengurangi kadar peroksida dan air yang menjadi sumber bau tengik dari minyak kelapa pada umumnya. Kapasitas produksi dari Ibu AS dan beberapa kelompok di Adonara pada bulan Februari 2010 saja sudah mencapai 3 ton per bulan. Itu belum termasuk pengrajin-pengrajin lain yang tidak tergabung dalam minyak goreng TaTa. Tetapi ibu As, dan ibu-ibu lainnya punya cita-cita yang lebih besar dari itu. Saat pertemuan aktor-aktor perubahan di Kupang mereka merancang agar industri kelapa rumahan di Adonara berkembang, dan dapat menggantikan kehadiran minyak sawit yang kontroversial itu.
Saat ini pemilik kebun kelapa, memilih menjual kopra ketimbang menjual kelapa bulat pada perajin. Dulunya, harga kopra murah sehingga menjual kelapa bulat kadang lebih menguntungkan dibanding membuat kopra. Sekarang, bahkan kopra basah pun dibeli oleh pedagang pengumpul. Ternyata, urusan rebutan pasokan kelapa bulat bukan hanya kerepotan yang dialami oleh pengrajin kelapa yang sedang sangat antusias mengembangkan industri kelapa rumahan. Para pengusaha industri kelapa olahan, juga merasakan hal yang sama dengan para pengrajin kelapa Adonara. Bulan November 2010, seorang pengusaha industri kelapa olahan, dari Sambu Group menyurati Menteri Perekonomian agar menghentikan ekspor kelapa olahan (okezone.com). Menurutnya, kapasitas produksi pabrik hanya tinggal 64.3% akibat meningkatnya ekspor kelapa bulat ke Malaysia dan China. Dan hingga bulan Januari 2011 tidak ada respon yang memadai dari pemerintah bagaimana mengatasi kenaikan harga kelapa bulat akibat meningkatnya ekspor ke dua negara tersebut. Sama seperti komoditi lain, eksportasi menjadi jauh lebih penting ketimbang memperkuat otot-otot ekonomi dan ekologi warga. Bagi petani kelapa, kenaikan harga kopra adalah anugerah. Setelah berlama-lama menunggu kenaikan harga kopra menyejukkan memang. Ekspor kelapa bulat juga menyejukkan. Kenapa harus susah-susah mengusahakan kelapa yang bisa dijual dengan hanya tinggal petik, kumpul, angkut, dan dapat uang. Satu hal yang tidak dihitung adalah mengusahakan industri rumahan kelapa di P. Adonara, sebetulnya meningkatkan kemampuan ekonomi dan ekologi secara kolektif. Bayangkan jumlah orang yang dapat terlibat dari industri kelapa rumahan, belum lagi penggunaan produk-produk yang dapat mensubtitusi atau menjadi komplemen dari barang-barang konsumsi. Pendek kata, eksportasi bahan mentah dan setengah jadi kelapa, menguntungkan bagi sebagian orang tetapi tidak dalam arti strategis pengembangan resiliensi setempat atau skala pulau seperti Adonara. Salah satu jalan keluar yang patut dicoba adalah bagaimana membangun kerja sama dengan para pemilik kebun kelapa. Bagaimana pun mimpi membangun indusri rakyat berbasis kelapa harus diperkenalkan kepada pihak-pihak lain dan ini tentu saja para pemilik kebun kelapa**(torry) |
| Last Updated ( Friday, 27 May 2011 08:38 ) |



Ibu As, biasa dia dipanggil, adalah satu dari sekian banyak perempuan Adonara yang memiliki usaha sampingan memproduksi minyak kelapa. Kelapa adalah bagian tak terpisahkan dari P. Adonara. Sepertiga pulau memang dipenuhi dengan pohon kelapa. Banyak pula orang yang hidup dari berjualan kopra. Meski demikian, industri berbasis kelapa tidak tumbuh di Pulau yang juga tersohor karena tingginya angka perantauan.
Inti dari program ini adalah melatih masyarakat untuk mengembangkan potensi kelapa mulai dari daging, air kelapa, sabut, dan batoknya. Produk yang dihasilkan pun lengkap, minyak kelapa, VCO (virgin coconut oil), nata de coco, arang briket, sampai asap cair yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti formalin. Sabutnya bisa dijadikan pengganti busa jok, dan lain-lainnya. Pendek kata, program ini adalah memanfaatkan kelapa secara keseluruhan tanpa kecuali.




















