| Petani Lahan Kering Vs. Anomali Iklim |
|
|
|
| Written by Raul Rajakota |
| Thursday, 19 May 2011 01:34 |
Secara umum NTT memiliki dua musim, musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau berlansung dari bulan Maret hingga Oktober sedangkan musim penghujan berlansung dari November hingga Februari. Namun fenomena curah hujan yang terjadi sepanjang tahun 2010 dan 2011 berada diluar kewajaran. Berdasarkan data yang terpantau dari Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang tergambar bahwa curah hujan terjadi sepajang bulan selama tahun 2010, walaupun dengan intesitas di bawah normal dan hanya terjadi beberapa kali. Salah satu fenomena lain adalah sebaran curah hujan yang tidak merata di setiap wilayah.Fenomena musim yang berkepanjangan seperti ini, di kenal dengan dua istilah yaitu El Nino dan La Nina. Kejadian El Nino biasanya diikuti dengan penurunan curah hujan dan peningkatan suhu udara, sedangkan kejadian La Nina biasanya di cirikan dengan kenaikan curah hujan diatas curah hujan normal (Fox, 2000; Nicholls and Beard, 2000). Secara meteorologis kejadian El Nino dan La Nina ditunjukan oleh Southern Oscilation Index (SOI) dan perubahan suhu permukaan lautan di samudra pasifik (Word Meteorology Organization, 1999). Berdasarkan nilai SOI di laut Australia selama tahun 2010 ( Australian Government, 2010) didapatkan bahwa nilai SOI mencapai angka positif 20. Nilai positif 10 mulai terjadi dari bulan April dan menurun pada Juni dan kembali naik hingga akhir Desember. Hal ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi gejala La Nina di wilayah NTT terutama Timor Barat. Persoalannya ketika ada perubahan-perubahan sifat alam, maka pengetahuan lokal yang masyarakat anut tidak bisa menjawab persoalan mereka. Lalu siapa yang bisa menjawab persoalan mereka?. Seharusnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat menyempurnakan pengetahuan lokal mereka. Namun kenyataanya belum sepenuhnya Ilmu pengetahuan dan teknologi diterima masyarakat. Tentu kondisi ini akan berdampak bagi usaha mereka, selain dampak bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Berdasarkan penelitian PIKUL (Penguatan Institusi dan Kapasitas Lokal) yang dilakukan di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang menunjukan dampak anomali iklim yang dirasakan masyarakat petani lahan kering sangat besar. Memang anomali iklim yang ditandai dengan hujan yang tidak normal, tidak saja berdampak negatif, tapi juga berdampak positif. Namun secara umum, dampak negatif lebih dirasakan dibanding dampak positif. Hal ini karena masyarakat petani lahan kering belum siap menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Setidaknya ada empat dampak negatif yang teridentifikasi, yang diterima masyarakat petani lahan kering. Pertama adalah gagal panen pada musim tanam 2009/2010. Berdasarkan hasil penelitian PIKUL, hasil kebun (jagung dan padi ladang) setiap kepala keluarga pada musim tanam 2009/2010 hanya bisa memenuhi kebutuhan selama 4 bulan. Dari hasil survei oleh NTT Policy Forum (2010), didapatkan pula bahwa harga pangan terus meningkat dan terjadi kelangkaan dari April hingga akhir 2010. Dari situasi tersebut maka dampak selanjutnya adalah ketidak cukupan pangan keluarga. Dari beberapa upaya masyarakat yang ditemukan, disimpulkan bahwa yang masyarakat lakukan adalah bagaimana agar tetap kenyang (kuantitas), tanpa mempertimbangkan kualitas dan gizi. Contohnya: mengurangi konsumsi karbohidrat dan menambah konsumsi sayuran yang memang melimpah. Hal ini tentu ini akan berpengaruh terhadap kebutuhan energi untuk melakukan aktifitas setiap hari. Curah hujan yang terjadi lebih awal dan tidak merata di setiap wilayah, juga telah berdampak pada perubahan jadwal tanam petani lahan kering. Hasil diskusi dengan beberapa kelompok tani, didapatkan bahwa petani bingung dan tidak sempat mempersiapkan lahan karena hujan terjadi pada saat jadwal petani mempersiapkan lahan. Hasil tersebut didapatkan pula bahwa petani telah menanam pada Agustus, ada yang menanam pada awal Oktober dan sebagian menanam pada November dan Desember. Bahkan ada sebagian petani yang belum menanam hingga akhir Desember. Hasil lain dari penelitian PIKUL juga menunjukan bahwa anomali iklim juga berdampak pada kesiapan lahan petani. Data yang diambil pada 25 Oktober-15 November tentang kesiapan lahan musim tanam 2010/2011, didapatkan bahwa 37 persen petani belum mempersiapkan lahan sama sekali, 31 persen mengatakan sudah bersihkan tapi belum bakar, 32 persen mengatakan sudah mempersiapkan lahan. Responden yang mengatakan sudah dipersiapkan lahan, juga memberi catatan lain bahwa lahan perlu membersihkannya lagi karena sudah ditumbuhi gulma. Sedangkan luas lahan yang disiapkan berkisar antara 0,3 ha sampai 0,5 ha setiap keluarga. Luas lahan yang disiapkan ini sangat berkurang dari luas lahan pada tahun-tahun sebelumnya yaitu rata-rata 0,8-1 Ha/kk. Kondisi ini tentu akan berdampak lanjut pada hasil panen pada musim tanam 2010/2011. Disimpulkan juga bahwa masyarakat masih memecahkan persoalannya sendiri, dengan pengetahuan mereka yang terbatas. Melihat situasi ini, maka diharapkan Pemerintah dan seluruh stakeholder perlu mengambil langkah antisipasi yang tepat, agar masyarakat petani tidak terjerumus pada situasi yang lebih sulit. Karena dengan pengetahuan yang terbatas tentu, keputusan yang diambil petani bisa membuat mereka semakin sulit. Dari empat dampak diatas, maka perlu ada langkah yang segera diambil. Misalnya; bantuan makanan untuk anak-anak dan balita. Selanjutnya agar para petani tetap bersemangat dan melanjutkan aktifitas pertaniannya, maka seluruh stakeholder harus memberi dorongan agar memanfaatkan hujan tersisa untuk menanam berbagai komoditi yang dapat mengantikan jagung dan beras sebagai makanan pokok. Petani juga harus didukung dengan modal pertanian/peternakan seperti; bibit, peralatan dan pendampingan yang intens. Tentu bantuan yang diberikan tidak sekedar proyek pengadaan yang akhirnya tidak bermanfaat. Bantuan bibit dan peralatan mesti disesuikan dengan waktu, jenis, kualitas, kuantitas yang tepat. Mengantisipasi anomali iklim yang berulang, maka kondisi saat ini harus menjadi pelajaran berharga agar lebih siap menghadapi persoalan yang sama. Misalnya; untuk mendapatkan informasi secara akurat, maka pemintah mesti menyediakan lebih banyak stasiun pangamatan cuaca, minimal disetiap kecamatan sehingga dapat meramalkan keadaan iklim dengan tepat. Pemerintah dan Dinas terkait mesti mencari dan mendorong masyarakat untuk memiliki alternatif-alternatif pilihan bertani dan tidak hanya mengandalkan pola pertanian lahan kering. Pemerintah juga harus mencari dan memberikan pilihan bibit-bibit pertanian yang sesuai dengan kondisi geografis NTT dan tahan terhadap perubahan iklim.*** |
| Last Updated ( Friday, 08 July 2011 06:06 ) |



Sebagian besar masyarakat NTT bekerja di sektor pertanian lahan kering, sangat terkejut menghadapi perubahan ini. Sistem pertanian yang masih dilakukan secara tradisional dan sangat tergantung pada keadaan iklim membuat masyarakat petani bingung. Selama ini semua aktifitas petani yang disesuaikan dengan keadaan iklim dan kondisi geografis di sekitar mereka. Pembelajaran dari alam yang masyarakat dapatkan bertahun-tahun menghasilkan berbagai nilai-nilai pengetahuan sebagai kearifan lokal. Walaupun nilai-nilai pengetahuan lokal tersebut tidak terdokumentasi secara tertulis, namun nilai-nilai tersebut sangat dipegang teguh oleh masyarakat. Pengetahuan lokal itulah yang menjadi pegangan masyarakat dalam mengambil keputusan dalam bertani. 




















