| Desa Tolnaku, Dusun Oelfab: Antara Mangaan, Jadi TKI atau Berkebun |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Wednesday, 11 January 2012 02:46 |
|
Sampai di rumah bapak dusun, saya bertemu dengan beberapa perempuan yang sedang duduk istirahat. Mereka baru saja pulang dari kegiatan menggali batu mangaan di kebun. Kebun yang dulunya menjadi tempat mereka bertanam. ![]() "Lumayan, hari ini dapat 2 karung yang 20 kilo. Batu mangaan disini dibeli dengan harga Rp 900,- per kilo", tutur seorang ibu. "Biasanya mereka datang malam hari untuk mengangkut batu mangaan. Harganya masih Rp 900,- per kg karena belum ada izin. Kalau sudah ada izin harganya bisa mencapai Rp 3.000,- per kg begitu kata mereka yang biasa datang beli batu mangan disini" jelas seorang ibu lain. "Sekarang ini, kami yang ibu-ibu sudah sering menggali batu mangaan. Hasilnya lumayan, bisa tambah-tambah untuk beli beras, minyak tanah, sabun, dan uang untuk sekolah anak. Satu kali jual bisa dapat Rp 125.000,- sampai Rp 150.000,-. Tapi, sekarang yang datang membeli sudah jarang. Jadi, kami tampung saja batu mangan yang sudah kami gali. Untuk musim panas, seperti sekarang ini kami sulit untuk mengelola kebun, air susah. Hasil kebun seperti ubi kayu dan jagung di kampung ini kalau di kebun mamar banyak. Tapi, hasilnya hanya untuk makan saja, tidak dijual. Kami tidak menjual karena banyak saingan di pasar lili dan camplong" cerita seorang ibu yang duduk paling dekat dengan saya. "Biaya transportasi disini mahal, untuk 1 orang penumpang Rp 100.000,- dengan ojek pergi pulang. Kalau dengan mobil pick-Up 1 orang Rp 20.000,- jika ada tambahan barang, 1 karung Rp 5.000,-. Harga transportasi untuk hewan lain lagi, 1 ekor ayam Rp 5.000,- kambing Rp 50.000 per ekor, babi Rp 75.000,- sampai Rp 150.000,- per ekor. Jadi, kalau kami jual ke pasar dan tidak laku, kami rugi. Bagaimanapun, kalau sudah di pasar pasti kami jual walaupun dengan harga yang tidak wajar." lanjut si ibu tadi. Saya hanya bisa mendengar dengan sedikit tersenyum. Diantar kami ada seorang nenek. Dia pun tak ingin ketinggalan bercerita. "Dulu, hasil panen padi masih bagus, masih bisa simpan, cukup untuk bertahan sampai musim panas. Sudah 3 tahun ini, hasil panen jagung dan padi gagal. Hampir semua keluarga di sini begitu. Ada 68 keluarga tinggal disini. Semua menerima beras raskin. Sejak tahun 2008, kami makan beras raskin. Pernah ada tamu yang datang ke kampung kami, mereka tidak mau makan beras raskin. Padahal hanya itu, yang kami punya." cerita si nenek. Sedang asyik bercerita, bapak Dusun datang dengan menggendong karung. Entah apa yang ada dalam karung tersebut. Setelah ditanya, ternyata isinya ubi kayu yang baru saja dipanen dari kebun. Sisa-sisa lumpur masih menempel pada ujung-ujung kuku dan telapak tangan orang tua ini. Kulit keriput dan rambut putihnya sudah kentara. Ia enggan berjabat tangan. Namun, tak ada alasan bagi saya untuk tidak menjabatnya. Bapak Nikson, mengambil posisi duduk di tanah dan menyandarkan punggungnya pada satu tiang kering yang ada disitu. "Beginilah kalau di kampung ibu", bapak Dusun mengawali pembicaraannya dengan saya. Seorang anak kecil, berumur sekitar 12 tahun mendekat ke arahnya dan menyandarkan badannya ke dada bapak dusun. "Ini cucu saya. Sekarang ini, saya sedang berjuang untuk pendidikannya. Anak perempuan saya 1 orang, sekarang sudah tinggal di Jakarta, berkeluarga, dan tidak pernah kembali lagi kesini. Sudah 3 tahun dia tidak kunjung datang" cerita bapak dusun sambil mengelus kepala cucunya. Kami masih bercerita. Heran, disini saya jarang bertemu dengan anak-anak muda. Kebanyakan yang saya temui adalah orang tua dan anak-anak. Bapak dusun kemudian bercerita, banyak anak-anak muda disini yang bekerja di rantau. Kebanyakan mereka bekerja sebagai TKI di Malaysia. Desa Tolnaku masuk dalam kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Tak terlalu jauh dari Kotamadya Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur. Pemerintah mempekerjakan mereka untuk membuat negara lain maju. Begitulah bapak dusun berpendapat tentang pemerintah. Padahal anak-anak muda yang pergi ke Malaysia juga kerja kebun. Mereka lebih memilih untuk kerja kebun orang daripada kerja kebun sendiri, padahal disini kebun masyarakat luas. "Habis mau bagaimana lagi, pemerintah sudah atur begitu. Kalau kerja kebun orang pasti dapat uang sedangkan disini susah cari uang. Apalagi dengan keadaan sekarang, kerja siang malam hasilnya hanya untuk makan, tidak bisa jual lagi" keluh bapak dusun. "Saya masih kerja kebun sampai sekarang. Dulu hasil kebun banyak macamnya, ada ubi kayu, pisang, kelapa, sayur-sayuran, kacang tanah, kacang hijau, jagung. Asalkan rajin, mau tanam apa saja pasti jadi. Sekarang ini, hanya ubi kayu dan jagung muda yang paling banyak. Untuk tambah-tambah kebutuhan dalam rumah saya jual ternak ayam, kambing, dan babi. Kadang-kadang saya jual kayu" Bapak dusun menunjuk pada kayu-kayu yang berjejer di depan rumahnya. "Ibu lihat kayu-kayu itu? Sudah ada orang yang menawar saya dengan harga 3 juta, tapi saya belum mau menjualnya. Saya belum butuh uang. Saya masih menyimpannya untuk cucu saya, karena harga kayu itu mahal. Nanti kalau cucu saya butuh uang banyak untuk kelanjutan sekolahnya di SMP baru saya jual." kali ini bapak dusun bercerita dengan sedikit bangga. Sedang asyik bercerita, mama dusun menghidangkan kopi, ubi rebus, dan sambal tomat campur daun bawang. Lezat sekali rasanya! Selesai menyantap ubi, bapak dusun mempersilahkan saya untuk memakan sirih pinang yang baru saja dipetik dari halaman rumahnya. Beginilah cara orang disini memperlakukan tamu, kata mereka. Hari sudah gelap, saya pamit. "Nanti kita bercerita lagi " tutur saya. Selama perjalanan kembali ke penginapan di rumah kepala desa, saya merenung cerita mereka antara batu mangaan, TKI atau berkebun.***(melly) |
| Last Updated ( Tuesday, 17 January 2012 00:50 ) |
























