|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 11 January 2012 02:46 |
|
Sampai di rumah bapak dusun, saya bertemu dengan beberapa perempuan yang sedang duduk istirahat. Mereka baru saja pulang dari kegiatan menggali batu mangaan di kebun. Kebun yang dulunya menjadi tempat mereka bertanam.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 17 January 2012 00:50 )
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 01 August 2011 06:45 |
|
Sebagian kecil orang, melakukan hal-hal kecil, di tempat terpencil akan melahirkan perubahan besar dan berdampak luas! Antusiasme dan kepercayaan diri peserta Lingkar Belajar Komunitas Bervisi II, Wilayah Solor terlihat ketika mereka diberi apresiasi atas apa yang sedang dilakukan masing-masing. Hal biasa yang dilakukan ternyata sedang membawa perubahan bagi dunia.
Gersangnya pulau Solor yang rawan kebakaran dan penebangan pohon membawa para aktor pada dua pilihan: menghijaukan Solor atau mati? Jawaban atas pertanyaan ini dirumuskan dalam satu mimpi besar ke-24 aktor Solor yang berkumpul di Ritaebang (20-23 Juni 2011). “SOLOR HIJAU” menjadi pilihan sekaligus mimpi mereka. Metode Appreciative Inquiry dengan pendekatan asset based memberi keyakinan kepada para aktor bahwa apa yang sedang dikerjakan dan dimimpikan akan melampaui setiap tantangan krisis sosio ekologi yang sedang terjadi. Iklim boleh berubah dan ketergantungan boleh diciptakan pihak luar tetapi manusia di Solor sendiri yang menjadi penentu keberlanjutan hidup orang Solor. Melalui mantra-nya “Mula puken, adan tawa,” mereka yakin bahwa menanam adalah pilihan terbaik menuju Solor Hijau. ***(Andry)
|
|
Last Updated ( Monday, 01 August 2011 07:01 )
|
|
|
Written by Torry Kuswardono
|
|
Tuesday, 28 June 2011 00:00 |
|
Katakan pada saya dan saya lupa. Tunjukkan pada saya dan saya ingat. Libatkan saya dan saya mengerti. - Pepatah Cina  Para pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di Kota Kupang adalah fasilitator dalam sehari-harinya. Mereka yang ada ditengah, menjadi bagian dan adalah komunitas itu sendiri. Mereka adalah kata kunci perubahan di akar rumput. Sayangnya, kenangan mereka tentang bertemu dan berbagi dengan pemerintah kota adalah berdebat dan bertegang urat. Entah karena kebijakan, entah dana, entah kepentingan lain. Kami berbagi dengan 102 dari mereka – masing-masing 2 orang dari tiap kelurahan yang ada 51 di seluruh Kota Kupang ini. Kami bekerja sama dengan Badang Pemberdayaan Masyarakat Kota Kupang. Ketegangan yang ada dalam benak mereka serentak pupus, ketika disodorkan cara pandang baru: pendekatan bertumpu kekuatan dan appreciative inquiry. Change the way you see everything! Ini membuat 4 hari, 20 – 23 Juni, berjalan dinamis, nikmat dan karib. Ada 3 kelas yang berjalan paralel, untuk memastikan tiap orang berpartisipasi. Dua kelas di Hotel Maya dan satu kelas di Hotel Pantai Timor. Kami memastikan semua peserta, walaupun beda kelas, menerima input yang sama dan mendapat kesempatan yang sama untuk berbagi. Di acara penutupan, Deky Wabang mengungkapkan kesannya: Metode ini luar biasa, berbeda dari pelatihan manapun. Kalau bisa jangan satu kali, kalau bisa bukan kami saja.***(silvi)
|
|
Last Updated ( Monday, 01 August 2011 07:02 )
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
|
Page 1 of 4 |