PIKUL-KSI Siapkan Penelitian Prasyarat Sukses Pengelolaan Sumber Daya Air berbasis Komunitas/Desa di NTT

Atas dukungan Knowledge Sector Initiative (KSI), Pikul sedang mempersiapkan Penelitian Prasyarat Sukses Pengelolaan Sumber Daya Air berbasis Komunitas/Desa di Nusa Tenggara Timur

peneilitian-ksi-mainKegiatan ini merupakan penelitian partisipatif dan dokumentasi untuk mengkaji pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas yang mampu bertahan baik secara tradisional, maupun juga pendekatan-pendekatan baru. Calon lokasi adalah Desa Noelbaki Kabupaten Kupang, Klasis Apui Kelaisi Timur (Alor), Desa Naip (Kab. Timor Tengah Selatan), Desa Bokonusan dan Batuinan (P. Semau) dan di beberapa titik lainnya di sekitar pulau timor dan flores.

Kegiatan ini juga bermaksud mengetahui dan memetakan pra syarat kesuksesan pengelolaan aset sumber daya air dari komunitas-komunitas yang berhasil mengelolanya.

Tujuan dari kegiatan ini adalah, pertama untuk mendokumentasi proses insitusionalisasi dan praktek pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas, baik untuk kepentingan air bersih maupun pertanian. Kedua, melakukan komparasi dan memberi rekomendasi terhadap kebijakan dan praktek-praktek kelembagaan pengelolaan aset sumber daya air yang selama ini dilakukan instansi pemerintah. Ketiga, Mendiseminasi temuan dan dokumentasi pola-pola pengembangan institusi lokal tentang pengelolaan sumber daya air.

Penelitian yang akan berlangsung dari delapan bulan, sejak Agustus 2015 ini diharapkan dapat menjelaskan prasyarat-prasyarat kesuksesan pengelolaan sumber daya air oleh komunitas. Terutama bagaimana relasi sosial yang sudah ada di komunitas (kekerabatan, budaya, kesepakatan bersama, dan juga inklusifitas) digunakan untuk mengelola sumber daya air, sebagai salah satu aset terpenting bagi penghidupan komunitas.

Penelitian ini akan memberi kontribusi terhadap transformasi institusi pengelolaan sumber air berbasis komunitas, yang kemudian dapat digunakan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan aset air baik untuk minum dan pertaninan/peternakan untuk meningkatkan ketahanan pangan komunitas.

Selain itu, prasyarat sukses yang ditemukan dapat juga kemudian diterapkan untuk pendekatan-pendekatan pengelolaan sumber daya air yang sedang atau akan dikembangkan oleh pemerintah baik pemerintah desa, maupun program-prgoram pengembangan infrastruktur air oleh pemerintah kabupaten, propinsi, dan nasional.

Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu propinsi yang dikenal memiliki masalah laten ketahanan pangan. Dibandingkan propinsi lain, kondisi ketahanan pangan di NTT berada pada tingkat yang rendah.

Salah satu sebabnya adalah karena tingkat produktifitas pangan warga yang terbatas. Salah satu penyebab utama adalah terbatasnya sumber air, baik untuk minum maupun pertanian/peternakan. Dalam penelitan TAF (2014), menunjukan bahwa sekitar 80% petani NTT menggarap lahan kering yang mengandalkan 4 bulan musim hujan saja. Sehingga sumber air baik untuk minum dan pertanian/perkebunan menjadi sangat penting.

Untuk menjawab kondisi ini, pemerintah memberi prioritas khusus bagi pembangunan infrastruktur air di NTT. Pemerintah membangun 633 embung, terdiri dari 6 buah embung irigasi, dan sisanya embung rakyat yang diserahkan pengelolaannya pada desa. Pemerintah NTT juga telah memiliki 1.289 sumur bor dari rencana pemerintah sebanyak 7.891 sumur (Statistik Sarana dan Prasarana Pertanian 2007-2011, dan Data Base Embung Kementerian Pekerjaan Umum).

Pihak non pemerintah juga banyak terlibat dalam pengembangan infrastruktur dan pengelolaan air alami (pengembangan embung-embung keluarga, dan embung kebun, serta bidang resapan)

Sayangya, dalam hasil penelitian TAF (2014) menunjukan kebanyakan prasarana tersebut dalam kondisi rusak dan rusak berat, atau tidak terpakai. Juga inisiatif pengelolaan sumber daya air berbasis proyek gagal atau selesai ketika durasi proyek selesai.

Disisi yang lain, Selama periode 2011 – 2014, Pikul juga menemukan beberapa praktek-praktek baik oleh komunitas yang berhasil melakukan pengelolaan sumber daya air baik pengelolaan kelembagaan, infrastruktur (irigasi/non irigasi) dan pengelolaan sumber air alami yang dilakukan oleh komunitas. Pikul juga menemukan beberapa contoh yang baik keberhasilan komunitas menggunakan aset-aset terkait sumber daya air (infrastruktur dan kelembagaan) yang mangkrak kemudian digunakan kembali.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pra syarat keberhasilan pengelolaan oleh komunitas. Terutama bagaimana keberhasilan itu dilakukan: bagaimana hubungan-hubungan kekerabatan berpengaruh, bagaimana atribut kepemimpinan yang dibutuhkan, bagaimana pengelolaan batas layanan aset, pengaturan alokasi layanan, mekanisme pembuatan dan penegakan aturan secara bersama dalam pengelolaan aset sumber daya air.

Penemuan prasyarat dari praktek-praktek baik tentunya penting pengembangan pendekatan pengelolaan sumber daya air oleh komunitas dan pemerintah bagi peningkatan ketahanan pangan warga. ***(pikul)