Pemetaan Pangan Lokal di Pulau Sabu-Raijua, Pulau Rote-Ndao, Pulau Lembata dan daratan Pulau Timor bagian barat

Buku ini dapat diunduh disini: DOWNLOAD¬†(jika link tidak bekerja, klik kanan dan pilih “save link as”)

Pemetaan Pangan Lokal Timor BaratPemetaan Pangan Lokal di Pulau Sabu-Raijua, Pulau Rote-Ndao, Pulau Lembata dan daratan Pulau Timor bagian barat (Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan), ini didasari oleh dua hal. Pertama, adalah hasil baselining dan profiling Pikul di tahun 2009 yang menemukan para inovator sosial yang mengembangkan bahan pangan lain, yaitu sorghum. Di antaranya adalah Ibu Siti Rofiah dari Lembata, dan Ibu Maria Loreta di Adonara. Kemudian pada perjalanannya, Pikul kembali mengetahui adanya komunitas-komunitas masyarakat yang hanya mengkonsumsi makanan-makanan tertentu, seperti satu komunitas di Kedang, Lembata, yang kemudian kami ketahui tepatnya di Desa Hoeleaq, kaum perempuannya hanya diperbolehkan mengkonsumsi jelai (jali). Alasan ini kemudian memunculkan suatu asumsi, bahwa masih ada komunitas masyarakat ataupun masyarakat secara personal mengembangkan bahan pangan lain tersebut. Kedua, Pikul percaya, strategi utama untuk melampaui masalah rawan pangan adalah mengembangkan sumber pangan lokal. Salah satu langkah awal yang penting adalah memetakan lokasi tanaman pangan lokal masih ditanam, dikonsumsi dan dikembangkan.

Penelitian ini bersandar pada wawancara terstruktur dengan menggunakan kuisioner dan pengamatan cepat terhadap tumbuhan/tanaman yang dilakukan di 5 wilayah sebagaimana disebutkan di atas. Tantangan terbesar dari penelitian ini berkaitan dengan faktor cuaca, sehingga beberapa kali terjadi perubahan jadwal kegiatan akibat ketiadaan transportasi. Selain itu tim peneliti juga harus berkejar-kejaran dengan waktu yang sangat singkat untuk melakukan pengamatan tanaman atau tumbuhan. Namun, berkat dukungan yang besar dari para responden dan kerja keras serta kesolidan tim peneliti, penelitian ini berhasil diselesaikan tepat waktu.

Penulisan laporan dilakukan dua tahap, pertama adalah laporan lapangan yang ditulis oleh masing-masing koordinator wilayah. Kedua, ha tersebut dianalisis dan ditulis kembali oleh Bapak I Wayan Mudita, untuk Bab I- IV dan Bab VI-VII, sedangkan Bab V ditulis kembali oleh Wahyu Adiningtyas.

Salah satu temuan dalam penelitian ini adalah pentingnya keragaman pangan pokok untuk mengatasi permasalahan rawan pangan. Untuk itu kebijakan pemerintah haruslah mendukung penanaman aneka ragam pangan, dan tidak berfokus pada satu tanaman tertentu. Di dalam laporan ini, Bapak Wayan Mudita juga menegaskan pentingnya pengembangan ketahanan pangan berbasis masyarakat untuk mendorong pembudidayaan jenis-jenis tanaman pangan pokok selain padi ladang dan jagung.

Perkumpulan Pikul dan seluruh tim peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada Dini Widiastuti dari Oxfam yang telah memberikan dukungan penuh pada pemetaan pangan lokal ini. Serta penghargaan yang tinggi kepada Bapak I Wayan Mudita yang telah mendedikasikan waktunya untuk mengerjakan penelitian ini sejak awal hingga penulisan. Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah terlibat dari awal hingga akhir dalam proses pemetaan pangan lokal ini. Banyak komentar dan saran yang memperkaya laporan ini dari berbagai pihak.

Kami sangat berharap hasil penelitian ini menjadi gambaran awal mengenai kondisi pangan lokal di Nusa Tenggara Timur, terutama di lokasi-lokasi sampel. Kami juga mengharapkan penelitian ini dapat memperkuat basis pengetahuan praksis menuju kedaulatan pangan.***