Laporan Profil Sistem Sumber Daya Di Desa Uiboa, Desa Uitiuh Tuan, Desa Batuinan, dan Desa Uitiuh Ana Di Pulau Semau, Kab. Kupang, Nusa Tenggara Timur

Dokumen ini adalah dokumen laporan Profil Sistem Sumber Daya Di Desa Uiboa, Desa Uitiuh Tuan, Desa Batuinan, dan Desa Uitiuh Ana Di Pulau Semau, Kab. Kupang, Nusa Tenggara Timur berdasarkan riset yang dilakukan oleh 2 asosiat Pikul George Hormat dan Margaretha Heo

Selengkapnya dokumen ini dapat di unduh disini: DOWNLOAD

 

riset-semau-artIstilah sistem sumber daya yang dimaksud adalah sumber daya (maksudnya sumber daya alam) bagi peruntukan atau fungsi ruang dan kelembagaan yang memberi manfaat tertentu kepada komunitas. Kelembagaan yang dimaksudkan di sini adalah struktur penguasaan dan pemanfaatan, serta relasi antara individu suatu komunitas di dalam memanfaatkan unit-unit sumber daya dari kenyataan ruang yang ada.

Dengan batasan ini, dapat dipetakan enam sistem sumber daya di Desa Uiboa, Desa Utiuh Tuan, Desa Batu Inan, dan Desa Uitiuh Ana di Pulau Semau. Keenam elemen itu adalah pemukiman, lahan berkebun, hutan, sumber air, pantai, dan laut.

Warga di Pulau Semau berasal dari dua etnis utama, yaitu Helong dan Rote. Etnis Helong dianggap sebagai etnis asli dan etnis Rote sebagai pendatang. Di desa-desa beretnis mayoritas Helong, penduduk umumnya berasal dari beberapa klen utama yang umumnya merupakan tuan tanah atau bangsawan. Misalnya di Desa Utiuh Tuan, dari 402 wajib pilih, paling kurang 298 orang (74 persen) dan di Desa 53 Desa Uiboa lebih dari 69 persen atau 3349 dari 509 penduduk usia wajib pilih berasal dari 12 klen utama di desa itu. Sementara sisanya merupakan keluarga-keluarga yang datang kemudian dari Pulau Rote, Alor, Sabu, Timor daratan, atau klen Helong-Samau dari desa-desa lain. Sementara di Desa Batuinan, komposisi klen mayoritas sedikit berbeda.

Sejarah kedatangan dan penguasaan tanah klen-klen utama ini di Semau belum jelas. Tetapi sebuah publikasi mutahir tentang sejarah Kota Kupang, buku Koepang Temp Doeloe karya Ishak Arries Luitnan menjelaskan topogeni sebagian klen-klen ini hingga akhirnya mendiami Kota Kupang.

Umumnya klen-klen itu berasal dari Pulau Seram (Nusa Ina) di Maluku, dan tiba di Kupang setelah melalui perjalanan panjang dari tempat pendaratan mereka di ujung Timur Pulau Timor. Mereka datang dalam beberapa kelompok dan gelombang.

Klen tuan tanah di Batuinan seperti Hlena Sabu (jadi Lenasabu), Belis-Mau (jadi Bilismau), Lai-Bahas (jadi Laibahas), Bal-Somang (Jadi Balsomang), dan Mes-Tuni (jadi Mestuni); atau tuan tanah di Uitiuh Tuan seperti Bis-Tolen (jadi Bistale); Ismau (salah satu klen Tuan Tanah di Uiboa); atau klen berpengaruh seperti Buit-Lena (jadi Buitlena) dan Putis-Lulut (jadi Putislulut) adalah anggota dari kelompok kedua yang terdiri dari dua puluh empat kepala keluarga yang dipimpin Lissin-Bissing. Lissin-Bissing (Lissin Lai Lai Bissi) adalah cikal bakal klen Bisilisin yang kemudian turun-temurun menjadi Raja Helong. Sementara Nusnatun (salah satu Klen Tuan Tanah) di Uiboa termasuk di dalam kelompok satu, yaitu sebelas keluarga yang dipimpin Lai Kait. Kedua kelompok ini berpisah jurusan di Oesao (kini wilayah Kabupaten Kupang). Laiskodat adalah pimpinan rombongan dari gelombang kedatangan berikutnya. ***