Panduan Interpretasi dan Respon informasi Iklim dan Cuaca untuk Petani dan Nelayan

Penulis: Norman P.L.B Riwu Kaho, SP, M.Sc

Selengkapnya Panduan ini dapat di unduh sini: DOWNLOAD

panduan_infoPerubahan iklim (climate change) sebagai akibat suhu bumi yang makin memanas (global warming) ahli iklim dari seluruh dunia yang tergabung dalamadalah fakta dan bukan sekedar perdebatan ilmiah semata. Apa yang dihasilkan oleh para ahli-ahliIntergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dalam kajian terbaru mereka pada Laporan Penilaian yang Kelima (Fifth Assesment Report, 2014) turut membenarkan pernyataan diatas. Boer & Perdinan (2008 dalam Riwu Kaho, 2013) bahkan dengan tegas memperlihatkan salah satu dampak negatif dari perubahan iklim ini adalah meningkatnya kejadian bencana alam (natural disaster) di Indonesia terutama bencana banjir (flooding), tanah longsor (landslide) dan kekeringan (drought). Kejadian yang kurang lebih serupa pun terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mengaitkan dampak perubahan iklim ini dalam konteks NTT, maka sulit untuk tidak menyebutkan dampak negatif terhadap sektor pertanian dan perikanan dan segala embel-embel yang melekat didalamnya. Peningkatan kejadian kekeringan sebagai akibat anomali iklim yang seringkali berkaitan dengan kegagalan penanaman hingga panen. Namun hal yang berbalik dratis terjadi saat musim hujan yang lekat dengan banjir (flooding) dan longsor (landslide) yang sama-sama bermakna negatif bagi para petani. Bersyukurlah bagi petani dan nelayan yang memiliki modal dan skala usaha yang besar sehingga tidak terlalu merasakan dampaknya, namun beberapa contoh berikut memperlihatkan bahwa petani dan nelayan tradisional di NTT adalah pihak yang sangat rentan.

Kejadian terkini pada tahun 2014 yang terjadi pada masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Sumba Timur yang terpaksa harus mengkonsumsi uwi/gadung (Dioscorea hispida) atau sering disebut sebagai “ubi hutan” yang beracun sebagai akibat kemarau berkepanjangan merupakan salah satu bukti nyata dampak negatif dari kekeringan terhadap petani tradisional (lihat Gambar dibawah ini). Di lain pihak, cuaca ekstrim yang disertai dengan gelombang tinggi dan angin kencang dapat memaksa para nelayan untuk tidak dapat melaut. Padahal, Hasil penelitian LSM Pikul (2014) memperlihatkan bahwa ketikacuaca buruk (ekstrim) terjadi seringkali para nelayan tetap memaksakan untuk tetap melaut karena ketika tidak melaut sehari saja, maka tidak ada ikan untuk dimakan dan pemasukan untuk keluarga.

Dalam situasi ini, maka IPCC yang kemudian disetujui oleh para ahli iklim lainnya memberikan 2 alternatif solusi yang paling mungkin ditempuh oleh manusia, yaitu melakukan upaya adaptasi dan mitigasi (penjelasan lebih lanjut mengenai adaptasi dan mitigasi dapat dilihat pada lampiran Glosarium). Ketika upaya mitigasi lebih diarahkan pada upaya bersama untuk menurunkan penyebab pemanasan global ini, maka yang paling mudah untuk dilakukan adalah bagaimana manusia mengadaptasi dinamika cuaca/iklim yang terjadi dewasa ini.

Dari titik pijak perspektif inilah penyebarluasan (broadcasting) informasi terkait cuaca/iklim dan terutama perubahan iklim sangatlah penting untuk dilakukan. Contoh teraktual ditemukan oleh LSM Pikul (2014) ketika salah seorang petani rumput laut yang segera merespon dengan cara menarik jaring rumput lautnya setelah mendapatkan informasi mengenai prediksi tinggi gelombang yang mencapai 3 meter ternyata menjadi satu-satunya petani rumput laut yang selamat dari terjangan ombak dan gelombang tinggi.

Meski demikian, salah satu kesulitan utama menghadang dalam penerapan solusi tadi adalah apa dan bagaimana caranya sehingga informasi-informasi yang sebenarnya dapat diakses secara mudah ini dapat diketahui, digunakan dan diinterpretasi oleh pengguna (users) sehingga dapat diolah menjadi informasi yang lebih bermanfaat. Dengan demikian, inilah tujuan mendasar dari penulisan modul ini dilakukan.***