Pdt. Sefnat Sailana : Siapkan Mata Air, Bukan Air Mata

“Sebentar lagi Natal. Sekarang kami tidak mau lagi pakai pohon natal plastik dari toko untuk pohon Natal di rumah dan di Gereja. Kami sudah putuskan untuk memakai anakan pohon saja, sehingga selesai Natal anakan itu bisa ditanam di kebun dan hutan gereja. Kalau ini dibiasakan terus menerus, lingkungan kita bisa lestari.” Pdt. Sefnat Sailana, STh.

 

“TANGGUNG JAWAB kita adalah menyiapkan lingkungan yang lestari bagi anak cucu kita” jelas Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Pdt. Sefnat Sailana sudah tinggal dan melayani di Apui selama kurang lebih 11 tahun. Selama itulah Pdt. Sefnat mencurahkan perhatiannya bagi kelestarian sumber daya air dan lingkungan di desa ditempat dia tinggal.

pdtSefnat1Pdt. Sefnat dikagumi selain karena beliau adalah pendeta di gereja setempat, tetapi juga karena kesuksesannya bersama jemaat dan warga desa menjalankan manajemen pengelolaan dan distribusi air minum lokal di desa Apui. Dimulai dari membuat lubang-lubang resapan air sampai menjalankan manajemen pengelolaan air minum desa yang sampai saat ini masihberjalan. Mulai dari kesepakatan iuran, perawatan dan tenaga teknis untuk perawatan pipa distribusi air minum semua dibentuk atas inisiatif gereja yang dipimpin Pdt. Sefnat dan dikelola langsung oleh masyarakat. “Untuk pengelola air bersih disini ada tiga orang. Satu untuk mengatur keuangan dan menyetor ke Bank, satu untuk mengumpulkan iuran dan satu orang teknisi. Kami punya teknisi sendiri, jadi kalau ada pipa yang rusak tidak repot” ujar Pdt. Sefnat.

Motivasi Pdt. Sefnat untuk merawat lingkungan sudah terpatri dalam dirinya sejak masih belajar di Fakultas Teologi, UKAW, Kupang. Beliau sangat terinspirasi dengan bagian Alkitab dari Kejadian 1 dan 2. “Dari sejarah penciptaan manusia, manusia diciptakan paling terakhir. Manusia adalah anak bungsu dari alam ini. Sudah seharusnya anak bungsu ini menghormati isi alam yang lain sebagai kakaknya. Selain itu saya juga datang dari desa.

Makanya saya mengerti pentingnya lingkungan yang lestari bagi keluarga dan masyarakat saya” tegas Pdt. Sefnat. “Saya memulainya dari keluarga dengan menanam bunga dan pohon di sekitar rumah. Terus kepada jemaat, dan desa. Waktu awal saya datang dari Rote, saya bawa banyak anakan bunga dan pohon dan mulai menanam. Saya minta jemaat juga menanam, namun banyak yang tidak mau. Bahkan bilang saya membawa ajaran sesat” ujar Pdt. Sefnat sambil tersenyum, mengingat masa ketika petama kali mencetuskan ide pelestarian lingkungan di jemaatnya.

Pdt. Sefnat pernah juga melayani di Rote sebagai pendeta, sebelum pindah ke Apui. Sebagai pendeta jemaat Ebenhaezer Apui, Pdt. Sefnat seperti menemukan wadah untuk menyebarkan kecintaan dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Belia memasukkan program ‘cinta lingkungan” dalam program gereja. Dimulai dari program Sabtu Bersih, Penghijauan, perawatan sumber air, pembuatan jebakan air hujan dan sarana air minum, hutan jemaat dan gereja, dan kesepakatan sanksi bagi yang melanggar kesepakatan. Semuanya dibicarakan dan disahkan dalam rapat majelis gereja. Di Apui; bagi mereka yang ingin menebang satu pohon, mereka harus menanam lima pohon. Jika ada yang menebang pohon sembarangan, maka akan dikenakan sanksi harus menanam seratus anakan pohon baru! Semua kegiatan dan kesepakatan disepakati dalam Persidangan Jemaat dan masih berjalan sampai sekarang.

Saat ini Pdt. Sefnat menjabat KPWK Alor Tengah Selatan dan semangat melestarikan lingkungannya terus berlanjut. Setiap gereja di klasis Alor Tengah Selatan saat ini memiliki hutan gereja. Di jemaat Ebenhaezer Apui, setiap tahun juga merayakan dan melakukan kebaktian (ibadah khusus) untuk mencegah kebakaran hutan dan penggunaan Potas, kebaktian pelarangan perusakan kolam air, kebaktian syukur atas hujan pertama, kebaktian perayaan hari lingkungan hidup, Hari Bumi dan Hari Air Sedunia dalam liturgi tahunan gereja. Kebaktian Hari Air Sedunia dilakukan di sumber mata air desa.

“Saya masih ingat, dulu setiap sabtu kalau jemaat atau majelis bangun terlambat, pak pendeta sudah tiup nafiri agar kita berkumpul untuk kerja sabtu bersih. Kami dengar baru kami pergi ke arah suara nafiri untuk kerja. Juga dulu, kami disini harus beli sirih untuk makan sirih pinang. Sekarang kami tinggal ambil di samping rumah. Pak pendeta yang dulu suruh kami tanam. Juga air. Dulu disini Cuma punya satu mata air saja, di dekat gereja jadi semua datang ambil air disini, kadang-kadang bakalai. Setelah Bapak Pendeta datang, kita kerja sama-sama kasi jalan air dengan sumur resapan. Sekarang semua rumah sudah ada air ledeng.” ujar Petrus Singamau, salah satu warga desa Apui.

Saat ini Pdt. Sefnat sedang merencanakan beberapa kegiatan baru; untuk memperluas kepeduliannya bagi pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Beliau sedang menyiapkan program untuk memasukan Pendidikan Pelestarian Lingkungan dalam kurikulum Pendidikan Anak dan Remaja (PAR) dan Katekisasi di gereja, dan membentuk wadah CINTA BUMI, sebuah wadah berbasis gereja (klasis) yang akan beraktifitas untuk melakukan beragam kegiatan untuk menjaga sumber daya alam dan lingkungan di Klasis Alor Selatan.

Jika mau melihat keunikan lain dari Desa Apui maka jangan datang ke desa ini siang hari. Datang saja malam hari. Apui bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor roda dua selama kurang lebih tiga jam perjalanan dari Kalabahi, Ibukota Kabupaten Alor melewati jalur Bukapiting. Ada jalan yang lain menuju Apui, yaitu melewati daerah Mainang, tapi itu membutuhkan perjalanan kurang lebih 6 jam. Perjalanan akan melelahkan, karena terus mendaki. Sulit sekali menemukan jalan rata. Jika mengunjungi Apui malam hari; setelah menempuh tiga jam perjalanan dalam gelap, kita akan menemukan sebuah desa yang telah terang benderang oleh lampu listrik. Lampu-lampu jalan di kiri dan kanan jalan masuk desa pun seakan menyambut setiap orang yang datang. Gereja, sekolah, kantor dan rumah penduduk terang dengan lampu listrik. PLTD di desa Apui; bantuan dari salah satu program pemerintah ini juga tak lepas dari campur tangan Pdt.Sefnat, sebagai pimpinan gereja, bekerja sama dengan pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Atas kepeduliannya pada lingkungan hidup, Pdt. Sefnat Sailana dianugerahi NTT Academia Award 2011 (NAA) untuk kategori inovasi lingkungan hidup. NAA diberikan kepada anggota masyarakat sipil yang dianggap berjasa dalam memajukan NTT.

Anaido pia pima, anaido aroba malang, anaido kafol pakai..(Tanah itu bagaikan ayah dan ibu. Tanah itu bagaikan emas perak, lambang kekayaan. Tanah itu bagaikan nyiru dan bakul, tempat yang memberi kita makan. Kita harus siapkan mata air buat anak cucu kita, bukan air mata” harap Pdt. Sefnat malam itu.*** (Torry Kuswardono, Danny Wetangterah, Donald Mangi, Andry Ratumakin – PIKUL, Kupang)