Enam Gagal Petani Lahan Kering

 

oleh: Paulus Raja Kota

(Asosiat PIKUL, Anggota NTT Policy Forum)

kelompoktaniSISTEM pertanian lahan kering telah menjadi cara bertani  yang sudah melekat dengan sebagian besar  masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari data NTT dalam angka 2009, menunjukan bahwah 69,42 persen masyarakat NTT bekerja di sektor pertanian. Dari jumlah tersebut 76 persen adalah petani lahan kering.   Petani lahan kering NTT,  tidak saja mengandalkan hasil kebun sebagai satu-satunya sebagai sumber penghidupan. Berbagai kombinasi cara bertani telah terbentuk sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat. Misalnya bertani dengan sistem agroforestri ataupun sistem bertani dan beternak yang selama ini masyarakat lakukan. Namun demikian, hasil  berkebun (tanaman semusim) menjadi sumber utama penyediaan pangan dalam kebutuhan keluarga selama setahun. Hasil kebun yang dihasilkan juga masih terbatas pada jagung, padi ladang, beberapa jenis kacang-kacangan dan ubi-ubian.

Dalam kelender petani lahan kering, bulan Maret adalah bulan dimana mereka siap memanen berbagai hasil kebun. Untuk itu bulan Maret sebagai bulan dimana petani akan berkelimpahan hasil berupa jagung, padi dan kacang-kacanggan.  Berbagai hasil tersebut selanjutnya akan disimpan dengan berbagai kearifan, sebagai gudang pangan selama setahun lamanya. Namun pertanyaan adalah apakah benar bulan maret tahun ini, petani lahan kering kita  sedang memanen hasil kebun mereka?

Cerita-cerita saat ini, ketika petani bertemu dan menegur sapa, maka selalu ada pertanyaan diantara mereka yaitu tahun ini kita makan apa?  Hal ini menunjukan bahwa kekuatiran besar sedang menghantui masyarakat petani lahan kering  kita. Situasi pangan masyarakat dapat kita lihat di gereja-gereja dipedesaan. Natura berupa jagung muda yang di persembahkan sebelum dipanen oleh jemaat, tahun ini jumlahnya sangat sedikit. Bahkan kualitasnya sangat memprihatinkan, pada hal biasanya, jagung  dengan kualitas terbaiklah yang dipersembahkan. Seharusnya saat ini petani, berada pada kelimpahan pangan, namun kenyataannya tahun ini petani sudah  kekurangan pangan pada awal bulan panen. Sebuah ironi memang, disaat provinsi NTT sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan ingin menjadi provinsi jagung, justru masyarakatnya kelaparan karena tidak mendapatkan jagung dari kebun mereka.

Gagal tanam dan gagal panen adalah dua istilah yang sering terdengar dari diskusi para petani kita. Namun akhir-akhir ini muncul lagi istilah-istilah baru di kalangan masyarakat petani yaitu  gagal siap kebun, gagal tumbuh dan gagal berbuah. Bahkan ada satu istilah baru yang muncul yaitu gagal simpan. Dengan demikian sudah ada Enam Gagal (6G) yang petani alami saat ini. Situasi ini menyebabkan petani lahan kering berada pada kondisi terburuk.

Gagal siap kebun memang sudah terlihat sejak akhir tahun 2010. Anomali iklim yang tak menentu menyebabkan petani binggung dan tidak siap dalam mengahadapi masalah ini. Hasil penelitian PIKUL, menunjukan bahwa  luas lahan petani yang disiapkan untuk musim tanam 2010-2011 tidak lebih dari seperempat hektar per kepala keluarga. Kondisi ini berlanjut pada   gagal yang berikut yaitu gagal tanam dan gagal tumbuh. Tingginya curah hujan karena tidak sesuai kelender musim. Iklim yang ekstrim juga berdampak pada gagal berbuah dan gagal panen sebagai akibat tingginya curah hujan pada saat tanaman berbunga dan tanaman siap panen. Dari hasil penelitian yang sama didapatkan pula bahwa hasil penen tanaman jagung tahun 2010 lebih rendah hingga 45%  dari tahun 2009.  Kalaupun masih ada hasil yang didapat, maka ada masalah lanjutan yaitu gagal simpan. Penyebabnya gagal simpan,  tentu bukan iklim, tapi karena karena salah mengelolah.

Kebijakan pemerintah untuk menjadikan NTT sebagai provinsi jagung, seharusnya menunjukan dampak positif terhadap produksi jagung, namun kenyataan real di masyarakat justru bertolak belakang.  Program yang terlihat selama ini baru sebatas penyediaan bibit jagung. Bagaimana bibit jagung bisa dimanfaatkan kalo bibit tersebut baru sampai di tangan masyarakat pada pertengahan  bulan februari. Varietas bibit jagung yang dibagikan oleh pemerintah, di indikasikan menjadi penyebab gagal ke enam yang di alami petani yaitu gagal simpan. Hal ini karena varietas jagung tersebut adalah varietas  yang tidak tahan terhadap hama kumbang bubuk (Ulat Fufuk). Beberapa cerita dari petani, didapatkan bahwa bibit jagung yang diperoleh, tidak dimanfaatkan sebagai bibit, tapi justru dicuci dan masak untuk dikonsumsi.

Berdasarkan data stasiun Klimatologi Lasiana Kupang didapatkan bahwa curah hujan tahun 2010, memang tidak  berlansung secara normal. Sebaran Hari Hujan (HH) terjadi di setiap bulan kecuali bulan juli, walaupun dengan intensitas yang rendah.  Perubahan iklim tentu tidak bisa diatur dan sulit di prediksi. Walaupun demikian, tentu kita tidak bisa berserah diri. Upaya penyesuian diri harus dilakukan untun mengurangi tingkat kerentanan. Jika masyarakat petani kita dimampukan untuk menyesuikan diri, tentu resiko bencana bisa di kurangi.  Beberapa contoh negara seperti jepang dan meksiko yang rawan terhadap tsunami dan gempa, mampu mempersiapkan masyarakatnya sehingga korban bisa dikurangi. Sebagai provinsi yang terdiri dari pulau-pulau kecil, dan berada di garis katulistiwa, tentu resiko perubahan iklim akan selalu menghantui kehidupan kita.  Pertanyaan buat kita adalah seriuskah kita mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan iklim?.

Pemerintah dan seluruh stakeholder mesti mempersiapkan kebijakan-kebijakan jangka panjang secara menyeluruh sebagai upaya adaptasi masyarakat petani kita. Misalnya menyiapkan infrastruktur pertanian yang berkaitan dengan iklim, sehingga prediksi perubahan iklim lebih cepat dan tepat di ketahui masyarakat. Pemerintah dan Perguruan Tinggi juga harus mulai  mencari bibit-bibit dengan varietas unggulan yang bisa tahan terhadap perubahan iklim.  Masyarakat petani juga harus di dorong untuk tidak hanya mengandalkan sistem pertanian lahan kering dan tergantung hanya pada hasil kebun sebagai sumber penghidupan (Livelihood).  Hasil penelitian dari PIKUL tahun 2010, juga menujukan bahwa petani lahan kering dengan sistem pertanian agroforestri  atau kombinasi pertanian peternakan lebih siap menghadapi perubahan iklim di banding dengan petani yang hanya mengandalkan kebun sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Secara spesifik petani kita tidak saja mengandalkan jagung sebagai sumber karbohidrat. Berbagai jenis sumber karbohidrat harus diperkenalkan kepada masyarakat petani sebagai alternatif selain jagung dan beras.

Persoalan enam gagal diatas tentu tidak bisa dianggap sepeleh dan perlu penanganan secara cepat. Hal ini karena berhubungan lansung dengan kebutuhan yang paling mendasar. Jika pemerintah tidak memberikan respon secara cepat dan tepat, tentu akan menimbulkan persoalan-persoalan baru di masyarakat.  Hujan yang masih tersisa bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menanam berbagai komoditi yang dapat mengantikan jagung. Namun tentunya masyarakat membutuhkan penyadaran dan dorongan untuk tetap bergairah pada bidang pertanian. Bantuan berupa bibit juga mesti disediakan, namun tentu harus mempertimbangkan jenis bibit yang tepat. Selain itu bibit yang diberikan juga harus tepat sasaran dan tepat waktu, dan bukan sekedar proyek seperti yang selama ini berjalan.***(pikul)